FAKTUAL

Senin, 16 Maret 2026

Membangun Loyalitas Penonton dan Nan Tumpah Riset untuk Napas Festival

OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis yang Menyenangi Seni)

SELAIN Pekan Nan Tumpah, ada juga festival seni lainnya yang dilakukan secara berkala di Sumatera Barat seperti KABA Festival yang digelar Nan Jombang. Tapi saya sedang tidak membanding-bandingkannya. Festival atau Pekan Nan Tumpah embrionya berawal dari gelaran tribute terhadap sastrawan Hamid Jabbar yang diinisiasi komunitas ini dengan nama Pesta Puisi pada 2011, lalu berlanjut ke festival dua tahunan yang dilaksanakan secara berkesinambungan.



“Saat pertama digulirkan, nama iven budaya ini Pesta Puisi diisi dengan dua pertunjukan teater, peluncuran album musikalisasi puisi, diskusi dan lomba baca puisi kreatif. Kegiatan perdana ini dilakukan juga untuk menge­nang sastrawan Indonesia asal Sumatra Barat, almarhum Hammid Jabbar,” kata Mahatma Muhammad, Pimpinan Komunitas Seni Nan Tumpah.

Iven Pekan Nan Tumpah memang telah menjadi bagian penting dari lanskap seni di Sumatera Barat. Dengan format biennale yang konsisten sejak 2011, festival ini tidak hanya menjadi ruang temu dengan beragam gagasan-gagasan bagi pelaku seni tetapi juga memperkaya dinamika seni, kerja-kerja kolaborasi lintas disiplin, tata kelola festival, dan tentu saja perjalanan satu dekade lebih itu, juga telah memberi warna bagi dunia seni di Sumatera Barat, juga Indonesia.

Sejak tahun 2011 hingga tahun ini, saya nyaris mengikuti secara saksama perjalanan Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) dalam mengelola festival ini. Selama 14 tahun tersebut, satu hal yang menonjol dan menjadi landasan utama kerja berkesenian komunitas ini adalah militansi yang tinggi. Militansi ini bukan sekadar semangat untuk terus berkarya, tetapi juga komitmen dalam menjaga marwah dan napas festival secara konsisten di tengah berbagai tantangan.

Namun, dalam perjalanan panjang KSNT mengelola festival, ada satu aspek yang dalam pembacaan saya belum maksimal dikelola secara bersamaan dengan penyelenggaraan festival, yaitu penonton (publik). Dalam konteks seni pertunjukan dan festival, penonton sering kali dianggap berada di luar teks-teks kerja artistik lintas disiplin seni. Padahal, bagi saya, penonton adalah elemen krusial yang memiliki determinasi penting dalam kerja-kerja kesenian. Mereka bukan hanya sekadar penerima, tetapi juga bagian dari ekosistem seni yang harus diperlakukan dengan strategi yang lebih matang dan serius.

Pekan Nan Tumpah ke depan, aspek pengelolaan penonton menjadi tantangan sekaligus peluang besar untuk membawa fetival ini ke tingkat luas dan berkelanjutan dengan tetap mengutamakan kualitas. Militansi yang selama ini menjadi ruh komunitas ini dapat diperluas bukan hanya dalam menjaga kesinambungan festival, tetapi juga dalam membangun dialog yang lebih erat dengan publiknya, sehingga festival tidak hanya menjadi perayaan seni dua tahunan, tetapi juga ruang pertemuan yang semakin hidup antara karya, seniman, dan penonton.

Dalam beberapa gelaran Pekan (Festival) Nan Tumpah, aspek penonton memang menunjukkan angka yang menggembirakan, bahkan pernah mendatangkan tujuh ribuan penonton selama sepekan penyelenggaraan. Akan tetapi, dalam pengamatan saya, aspek ini masih terkesan kurang tertata dengan baik dan belum mendapatkan bobot perhatian yang serius dalam diskursus lintas disiplin seni dan peristiwa budaya yang dibangun.

Jika diambil rerata jumlah penonton yang datang selama enam kali pelaksanaan Pekan Nan Tumpah, taruhlah sekitar 2.000-an penonton, maka ada 12.000 penyaksi yang sudah terjaring dan terkoneksi dengan Pekan Nan Tumpah. Informasi yang diperoleh, jumlah penonton terbanyak mencapai 7.000-an pada Pekan Nan Tumpah 2021. Angka rerata ini cukup signifikan untuk sebuah iven seni. Membaca angka ini, terlihat apresiasi publik terhadap peristiwa seni—terutana di Kota Padang—berada dalam iklim yang terang. Kita tidak melihat kehidupan seni pertunjukan itu gelap. Lalu pertanyaan sederhananya: di mana belasan ribu penonton itu sekarang? Bagaimana koneksinya dengan KSNT?

Kita tahu, Pekan Nan Tumpah salah satu festival yang dikelola secara swakelola dan swadaya serta menggalang penonton dengan ticketing. Artinya, penonton datang dan membeli tiket untuk menyaksikan pertunjukan. Namun, strategi ticketing yang dilakukan manajemen Pekan Nan Tumpah tidak dilakukan optimal. Masih mengesankan sporadis, dan keterhubungn dengan penonton yang telah terjalin secara tak langsung dengan membeli tiket, tidak dijalin lagi secara emosional dan koletivisme. Penonton terkesan “dilepas” kembali setelah perhelatan Pekan Nan Tumpah usai.  Lalu, akan dipertemukan kembali dua tahun yang akan datang. Ada kevakuman “silaturahmi” selama 2 tahun, yang semestinya, kekosongan “komunikasi” diisi dengan saling bertegur sapa dan berucap.    

Festival bukan hanya sekadar ruang bagi seniman untuk menampilkan karya, tetapi juga sebuah ekosistem yang menghubungkan seniman dan penonton dalam pengalaman yang lebih mendalam. Oleh karena itu, tata kelola dan manajemen penonton harus terus dioptimalkan agar mereka tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga terlibat secara aktif dan berkesinambungan. Seperti saya sebutkan di atas, penonton merupakan bagian utama dalam kerja-kerja kolaborasi seni lintas disiplin itu. Penonton merupakan determinasi dari sebuah proses seni.

Basis Data dan Penonton Baru

Pendataan penonton menjadi sangan krusial. Pemahaman bahwa penonton adalah aset perlu dipertegas lagi dalam kerangka kerja Pekan Nan Tumpah ke depan. Mesti ada platform yang menjadi bagian kerja utama dari komunitas ini. Perkara penonton ini harus dibuatkan satu departemen dalam struktur Komunitas Seni Nan Tumpah.

Untuk itu, perlu ada strategi lebih mendalam dalam mengelola hubungan antara festival dan publiknya. Pekan Nan Tumpah yang selalu berpijak pada narasi dan kerja kreatif dalamm spektrum lintas disiplin, idealnya dapat mengembangkan ekosistem penonton yang tidak hanya berjumlah besar, tetapi juga memiliki keterlibatan yang lebih aktif, baik secara intelektual maupun emosional. Ini bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan, mulai dari program edukasi seni, diskusi pascapertunjukan, hingga strategi kurasi yang lebih inklusif untuk menjangkau spektrum penonton yang lebih luas, dan tata Kelola basis data penonton.

Dari rangkaian strategi itu, semuanya dimuarakan pada basis data penonton yang sistemik, tertata, dan mudah diakses. Mengerjakan itu memang dituntut ketekunan dan kesabaran karena terkait dengan pola dan cara komunikasi eksternal dengan yang pihak berada di luar (penonton). Maka, pertanyaan signifikan dalam tajuk dalam DKT ini: “Pekan Nan Tumpah 2035: Masih Ada atau Sudah Jadi Mitos?” terjawab dengan “Pekan Nan Tumpah masih ada dengan puluhan ribu penonton selama sepekan.” Jawaban ini memang optimistis. Dan tidak salah. Yang salah itu jika kita menjadikannya mitos.

Jika kita menyepakati bahwa penonton adalah bagian penting dalam produksi festival dan keberlanjutan Pekan Nan Tumpah, maka strategi pengelolaan dan pengembangan penonton harus dirancang secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan, serta tentu saja penuh kesabaran.

Kita memiliki potensi dan peluang besar untuk membangun basis penonton—untuk sementara di Kota Padang saja—secara berkelanjutan, dan ini saya kira bisa dilakukan Komunitas Seni Nan Tumpah. Pekan Nan Tumpah adalah jenema (brand) dari sedikit festival pertunjukan seni yang digelar berkala di Sumatera Barat, dan telah sukses dilaksanakan selama 12 tahun. Jenama ini merupakan modal kultural dan sosial. Maka potensi dan kekuatan modal kultural dan sosial ini, jangan sampai terbenam dan redup nyalanya. Dan ia harus menyala. 

Pemetaan Segmen Penonton 

Komitmen utama Komumitas Seni Nan Tumpah prinsip dasarnya harus menjaga keberlanjutan Pekan Nan Tumpah. Ini pijakan dasarnya. Maka, pemetaan segmen penonton menjadi penting karena berhubungan dengan komunikasi dan jejaring. Pertanyaan paling umum dan sangat layak dipahami bersama adalah siapa penonton festival Pekan Nan Tumpah ini? Dan kemungkinan lain membuka segmen penonton lainnya?

Jika selama ini teridentifikasi bahwa sebagian besar penonton Pekan Nan Tumpah diklaim berasal dari kaum muda, remaja, dan mahasiswa, yang disebut penonton baru, maka sudah saatnya pemaknaannya diperluas lagi. Pekan Nan Tumpah mesti dan niscaya membuka kemungkinan untuk penonton baru dengan latar belakang segmen yang mapan. Tentu ini tidak dipahami bahwa penonton para muda tidak lagi diperhatikan, bukan. Mereka tetap jadi segmen utama penonton Pekan Nan Tumpah, tetapi tidak lagi mendominasi. Sebab, para muda secara psikologis bukan kelompok dengan karakter penonton loyal. Merek ini mendatangi pertunjukan seni masih melibatkan lebih dalam pada aspek emosional dan kebertemanan, serta kaitan nepotisme.

Penonton segmen mapan itu—yang selama ini pernah juga dilakukan kelompok dan komunitas seni walau belum maksimal—yaitu para profesional dan komunitas penghobi dan etnis. Para profesional ini dengan beragam profesi cukup banyak jumlahnya di Kota Padang. Bagian ini sebenarnya bisa dilakukan Komunitas Seni Nan Tumpah.

Potensi penonton baru dari kalangan mapan dengan latar profesi yang beragam itu, antara lain kalangan yang berprofesi dokter dan tenaga medis. Organisasi Ikatan Dokter Indonesia di Kota Padang, tercatat 2.148 orang anggotanya. Para dokter ini berpotensi sebagai penonton seni yang loyal karena terkait dengan latar belakang pendidikan, dan juga belum termasuk tenaga medis serta perawat yang juga punya potensi menjadi penonton baru. Cuma selama ini, akses dan informasi terhadap peristiwa budaya dan seni, mereka tidak mendapatkannya secara utuh.

Selain itu, terdapat berbagai organisasi profesi lainnya, seperti HISKI (Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia), organisasi guru (PGRI), komunitas akademisi, serta anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Sumatera Barat yang jumlahnya cukup banyak. Ada juga Persatuan Insinyur Indonesia (PII), komunitas berbasis hobi dengan beragam variannya, serta komunitas etnis. Ada juga Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia, ASITA, dan lainnya.

Tak hanya itu, para politisi yang kini duduk di lembaga legislatif (DPRD) sebagai anggota dewan juga merupakan bagian dari ekosistem ini. Mereka bukan hanya memiliki potensi sebagai penonton, tetapi juga dapat berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan.

Di luar kelompok profesi ini, ada pula masyarakat umum yang telah memiliki ketertarikan terhadap seni, maupun mereka yang belum terbiasa menonton festival seni, tetapi bisa tertarik jika strategi promosi dilakukan dengan tepat dan berkelanjutan.

Namun, semua potensi ini akan tetap menjadi sekadar potensi jika tidak ada langkah nyata untuk menggerakkannya—memantik, meyakinkan, dan menggugah mereka untuk terlibat. Di sinilah peran manajemen Pekan Nan Tumpah menjadi krusial. Nan Tumpah harus mengambil inisiatif untuk mewujudkannya. Dipahami bersama bahwa potensi tanpa strategi hanya akan menjadi potensi yang sia-sia, tetapi sebalijnya jika ini tergarap dengan baik maka mereka itu tidak sekadar sebagai penonton tetapi juga bisa berkontribusi aktif dalam pemajuan kebudayaan.

Kolaboratif dengan Organisasi Profesi dan  Komunitas

Organisasi profesi seperti HISKI, PGRI, HIPMI, PII, dan oragnisasi profesi lainnya,  komunitas hobi, komunitas etnis, dan politisi (anggota DPRD) memiliki peran strategis untuk jadi penonton aktif dalam Pekan Nan Tumpah dan menjadi jaringan yang besar dan luas sebagai pendukung (penonton) utama Pekan Nan Tumpah melalui promosi, pendanaan, atau advokasi kebijakan.

Selain itu, meraka ini berpeluang menjadi segmen penonton aktif baru yang loyal jika didekati dengan strategi yang tepat, komunikasi yang berkeseimbangan, dan berdialog dengan pensuasif dan  setara. Mereka ini berpotensi sebagai mitra dan kolaborator program yang bisa memberikan perspektif baru dalam penyelenggaraan Pekan Nan Tumpah. 

Mewujudkannya tentu bisa dilakukan dengan langkah konkret dan berkomunikasi secara intensif, terbuka, dan setara. Tim Pekan Nan Tumpah memprioritaskan komunikasi dan menjalin silaturahmi dengan membuka perbicangan yang setara dan profesional secara langsung. Misalnya, mengundang organisasi ini dalam pertemuan strategis pra-festival untuk mengenalkan lebih jauh Pekan Nan Tumpah dan peluang peran yang yang bisa dikolaborasikan dan keterlibatan langsung.

Selain itu, Nan Tumpah membukan  ruang kolaborasi yang relevan dengan organisasi profesi tersebut. HISKI, misalnya, bisa berkontribusi dalam diskusi sastra atau literasi budaya, PGRI bisa mengintegrasikan Pekan Nan Tumpah dengan kegiatan edukasi seni bagi siswa, dan guru-guru sebagai penonton yang partisipatoris aktif. HIPMI bisa mendukung pengembangan ekonomi kreatif dalam festival, PII bisa membantu dalam aspek teknis seperti arsitektur ruang festival atau inovasi teknologi dalam pertunjukan. Sedangkan komunitas hobi dan etnis bisa diberi panggung khusus untuk menampilkan ekspresi seni mereka. Politisi dan DPRD diajak berdiskusi dalam forum kebijakan budaya untuk advokasi lebih lanjut.

Untuk membangun penonton dan menumbuhkan loyalitas yang tinggi, Nan Tumpah bisa lakukan berbagai langkah antara lain pendataan sistematis keanggotaan dengan melibatkan partisipasi aktif dan mendapatkan akses eksklusif ke acara-acara Nan Tumpah sepanjang tahun.  Mengembangkan platform digital dan  komunitas daring, yaitu grup media sosial atau website interaktif tempat penonton bisa berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang festival dan seni budaya secara umum. Selain itu, membangun dan mengkomunikasikan pengalaman mereka yang mengesankan agar mereka merasa menjadi bagian dari festival dan Nan Tumpah. 

Selama ini barangkali sebagian sudah dilakukan Nan Tumpah kendati masih bersifat parsial dan belum terintegrasi dengan semua rangkaian festival dan platform jangka Panjang Komunitas Seni Nan Tumpah. Menggalang dan merawat penonton merupakan salah satu upaya membangun ekosistem festival yang berkelanjutan. Untuk itu, Pekan Nan Tumpah harus dikelola sebagai ekosistem seni yang hidup  dengan strategi yang menyeluruh sehingga terbentuk basis penonton yang loyal dan terus berkembang.  Dengan strategi yang terencana dan terukur, Pekan Nan Tumpah bisa terus berkembang dan menjadi festival yang tidak hanya menghadirkan seni, tetapi juga membangun keterlibatan penonton yang kuat dan berkelanjutan.  ]

Nan Tumpah Riset

Komunitas Seni Nan Tumpah harus menyiapkan badan riset yang kerjanya bukan hanya sekadar "pendukung" festival, tetapi juga motor utama dalam pengembangan konsep, strategi, dan keberlanjutan komunitas. Nan Tumpah Riset juga bisa menyusun secara metodologis dan konsepsional kerja-kerja kreatif lintas disiplin seni yang pernah dilakukan selama ini.

Selain itu, membangun kapasitas dan penguatan kerja kolaboratif antarseniman dengan penekanan pada cara kerja kreatif berbasis riset. Kehadiran Nan Tumpah Riset ini harus berada dalam tubuh struktur KSNT, eksistensinya bukan subordinat. Nan Tumpah Riset diproyeksikan  menghasilkan program-program yang lebih adaptif, inovatif, dan strategis sehingga memperkuat posisi KSNT dan Pekan Nan Tumpah dalam ekosistem seni di Sumatera Barat dan Indonesia. ***

 

 

Padang, Maret 2025

Tulisan ini dipaparkan pada Pekan Nan Tumpah 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar