Minggu, 15 Maret 2026

Drama Hilangnya Bupati Solok

OLEH Kharul Jasmi-Wartawan


“PAPA MANA?”

Demilkian suara sendu dari balik gagang telepon. Suara itu berasal dari mulut Gina Dwi Fakhria, anak kedua, Bupati Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, 42 tahun. Saat itu, pukul 20.00 WIB, Kamis, 12 Agustus 1999.


Gadis itu lebih banyak menangis ketimbang bicara. Kemudian telepon diambil alih oleh ajudan bupati, Sarimo, yang membenarkan bahwa Gamawan Fauzi hilang.



Bupati hilang? Betul. Ia hilang di hutan belantara antara Singkarak dan Lubuk Minturun, Padang, bersama 126 orang lainnya saat napak tilas untuk melihat potensi daerah yang akan dikembangkan bagi sektor pertanian dan pariwisata, serta industri semen. Namun, karena diserang lebah rimba, akhirnya mereka tersesat selama 5 hari. 

Hilangnya Gamawan Fauzi, yang baru meluncurkan dua album Minang itu, telah menggemparkan Sumatera Barat. Apalagi orang tahu, belantara antara Paninggahan Singkarak dan Lubuk Minturun, Padang, merupakanhutan perawan yang belum dijamah orang. 

Peristiwa itu, kemudian dengan mudah dipertautkan orang dengan sejumlah cerita rakyat, terutama tentang harimau asli Minangkabau dan harimau rantau. Betul atau tidak, rombongan yang tersesat itu, memang ada yang dituntun harimau menuju jalur dan jalan yang benar.

Rombongan napak tilas berjumlah 146 orang itu, berangkat dari Paninggahan, Solok, pukul 09.00 WIB, Rabu, 11 Agustus 1999. Setelah dua jam perjalanan, sebanyak 20 orang, yaitu penduduk setempat kembali pulang. Sementara yang 126 orang lainnya melanjutkan perjalanan membelah hutan lebat. Seharusnya pukul 16.00, rombongan sampai di sebuah kawasan hutan bernama Bukit Lantiak.

Gamawan  memerintahkan rombongannya untuk berkemah di kaki bukit itu. Meski masih sore, tapi suhu sudah dingin, matahari tak kelihatan lagi. Belum ada tanda-tanda rombongan akan tersesat, sebab mereka masih berada pada jalur yang benar, sesuai rintisan lima orang tim survei yang diberangkatkan 7 hari sebelumnya.

Dikeroyok Lebah

Kamis, 12 Agustus 1999, pagi telah datang, tapi di kaki Bukit Lantiak tak ada matahari. Dingin masih memagut, sekitar pukul 06.30 WIB rombongan kembali bergerak. Sesampai di puncak Bukit Lantiak, sebanyak 17 orang rombongan di bawah pimpinan Camat Mirza Nanda, berjalan duluan, sementara rombongan besar ada di belakang berjarak 300 meter.

Entah apa sebabnya, rombongan Camat Mirza Nanda ini, salah langkah, sebab salah seorang dari mereka terinjak lebah tanah yang langsung mengamuk. Maka, rombongan yang 17 orang itu porak-poranda dibuatnya. Sebanyak 5 orang, disengat oleh puluhan lebah. Yang 5 orang itu, lari ke belakang dan beberapa saat kemudian bertemu dengan Gamawan Fauzi, dan ratusan teman-temannya.

Yang 12 orang lainnya? Mereka lari kocar-kacir ke berbagai arah. Paling tidak, seperi diakui Camat Mirza Nanda, mereka lari sekitar 700 meter ke depan dari sarang lebah yang tadinya terinjak. Dengan demikian, jaraknya dengan Gamawan Fauzi lebih kurang 1 km. Jika tak ada aral melintang, rombongan mestinya telah sampai tujuan akhir di Lubuk Minturun, Padang, sekitar pukul 18.00 hari Kamis itu.

Tapi malang tak dapat ditolak, mujur tak bisa diraih, Gamawan beserta puluhan jagawana, polisi, tentara, aparat PU, tim kesehatan, dan juga kaum wanita, tak bertemu lagi dengan 12 orang yang dipimpin Camat Mirza Nanda. Itulah yang namanya hutan lebat, meski baru pukul 16.00 WIB, tapi sudah gelap. Benar-benar tak ada cahaya matahari.

“Saya hanya melihat matahari dua jam sehari,” aku Gamawan setelah ia berhasil diselamatkan. Karena yang ditunggu tak kunjung datang, dikontak lewat radio milik Syafri Datuk Rajo Nan Peta, karyawan Dinas PU yang juga  ikut,  tapi  upaya  itu sia-sia belaka.  Gamawan kemudian  mengambil  keputusan.  “Buka  kompas,”

katanya. Peta yang dibawa aparat Kantor Agraria pun dibuka. Mereka lalu merintis jalan baru, menuju barat, sesuai petunjuk peta. Tanpa disadari, walau menuju barat, mereka serong ke kanan akibatnya kehilangan arah.

Begitu kehilangan arah, Gamawan Fauzi meminjam handpone salah seorang stafnya. Dengan alat itulah pada pukul 13.45 WIB, Kamis, 12 Agustus 1999, ia menelepon Sekda Kabupaten Solok, Syafri Katib. Telepon berdering di ruang kerja Sekwilda. Hanya beberapa detik saja, ia terkejut. Yang menelepon ternyata atasannya, Bupati

Gamawan Fauzi. “Pak Sek, saya tersesat, saya tidak tahu entah berada di mana sekarang,” kata Gamawan. Hubungan  telepon  pun  putus.  Sejak  itu,  cerita hilangnya Gamawan Fauzi tersebar luas. Salah seorang famili  Gamawan  yang  ada  di  Padang  mengontak Kapolresta Padang,  Letkol Suhardi Sigit. Tak lama kemudian, Suhardi mengirim Brimob ke Lubuk Minturun. Polisi membuat posko di sana. Sejak itu, yaitu Kamis sore Gamawan dinyatakan hilang. Dari mana Gamawan menelepon? Katanya dari Bukit Lantiak, tapi siapa yang bisa membenarkan hal itu, sementara ia sendiri mengaku tersesat. Yang pasti, saat itu, rombongan bupati termuda di Indonesia ini, berada pada ketinggian 1.850 meter dari permukaan laut,” katanya kepada Republika, sesaat setelah ia diselamatkan, Ahad, 15 Agustus 1999.

Jika sinyal handphone bisa ditangkap, kata Danlanud Tabing, Letkol (P) Chairuddin Ray, maka jarak Gamawan dengan kota  Solok sekitar 10 mil. Tak terlalu jauh memang, sebab  garis tengah  hutan belantara  yang “menelan” rombongan napak tilas itu, hanya 62 km saja.

Kehabisan Logistik

Karena Mirza Nanda dan teman-temannya seperti Hari Junaidi, Wizarman (Kadinas Pariwisata), Ujang, Abrar, Jasrul dan lainnya itu tak kunjung bersua, maka diputuskanlah mencari jalan sendiri. Kompas sudah menunjuk ke arah barat. Rombongan pun berjalan ke arah sana. Celakanya, tanda-tanda yang dipakai oleh tim survey tak kunjung bertemu. Padahal, tanda itu dipasang mencolok, tidak saja disilang dengan cat merah, tapi juga diberi panah dengan bambu yang dipakukan dengan batang kayu.

“Kita sudah tersesat, Pak Bupati,” kata Hasan Noer Datuk Kayo, 72 tahun, lelaki paling tua yang ikut dalam rombongan itu. Datuk Kayo adalah tokoh adat Paning- gahan, desa terakhir di kaki hutan belantara yang Rabu lalu ditinggalkan rombongan.

Tersesat? Suasana mulai mencekam. Ternyata tidak seorang pun dari rombongan besar itu siap untuk tersesat. Tidak pula bupati. Dan, hutan tidak membedakan, apakah ia bupati atau bukan, kalau akan tersesat, pasti tersesat juga. Ketika disadari telah tersesat itulah, Gamawan

 

mendapat hubungan dengan Kapolresta Padang, Suhardi Sigit, lewat telepon genggam. Sayang kontak itu, tidak bisa menjelaskan di mana Gamawan berada. “Saya ada di dalam hutan, entah di mana,” kata Gamawan.

Baterai telepon genggam pun habis. Komunikasi terputus. Kontak radio hanya beberapa kali bisa dilakukan, kemudian putus total. Gamawan benar-benar tak terpantau lagi. Tim SAR di bawah pimpinan Yal Effendi dan polisi dengan Kapolresta menduga Gamawan ada di sebuah bukit bernama Bukit Sambuang, yang terletak persis di pertengahan Paninggahan-Lubuk Minturun. Jika disusul oleh tim SAR ke sana, maka untuk pergi saja dibutuhkan waktu delapan jam, atau 16 jam pulang pergi. Lumayan jauh. Tapi tim SAR, Brimob dan Mapala melakukannya juga.

Gamawan bukan berada di sana, yang mungkin ada di situ, adalah rombongan Camat Mirza Nanda. Polisi berusaha memantau posisi bupati ini dengan melepaskan tembakan. Tapi, Gamawan tidak pernah bisa mendengar adanya tembakan itu.

Kamis telah menuju sore nan gelap. Jalan baru telah dirintis. Ternyata rombongan bupati memasuki kawasan hutan yang sama sekali belum pernah ditempuh manusia. Banyak sekali ular, lintah, serta binatang hutan aneh lainnya. Semua memburu, menggigit rombongan, namun sakitnya tetap ditahan.

Sebatang sungai kecil kelihatan mengalir di jurang dua bukit. Airnya putih menyejukkan mata. Rombongan telah sepakat untuk menelusuri sungai itu, namun ternyata sulit sekali. Sungai tadi dipagar tebing yang kecuramannya

750-800. Maka, rombongan terpaksa berjalan di pinggang bukit yang berlapi-lapis. Anggota rombongan melukiskan, untuk menempuh jarak 0,5 km saja, diperlukan waktu lebih dari satu jam.

“Kami harus merangkak, berpegangan satu sama lain, dan tangan yang lain harus tetap memegang pohon, jika tidak kami akan terjatuh masuk jurang,” kata Hendra, salah seorang dari mereka.

Di situlah, Hasan Noer Datuk Kayo, nyaris terjatuh, untung ia bisa memegang akar kayu. Jika tidak, dipastikan orangtua itu akan jatuh seketika. Malam telah datang. Rombongan pun beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Semua rombongan melingkar di pohon itu. Malam itu, makanan  tinggal beberapa  bungkus mie,  yang kemudian dibuat bubur lalu dibagi rata: setengah gelas per orang.

“Ada yang menampung mie itu dengan topi, dengan telapak tangan, bahkan ada yang langsung dengan lidah,” kisah Gamawan.

Mereka juga sempat minum kopi sloki setiap orangnya. Ludes sudah makanan, tapi hari masih malam. Jadinya, saat-saat berikutnya, kelaparan melanda. Dapat dibayangkan, bupati, serta sejumlah pejabat kabupaten yang selama ini tak pernah merasakan lapar, kini malah kehabisan makanan.

Tidak ada yang tertidur, yang ada hanyalah kelelahan. Dan Jumat pagi, ketika tak ada murai berkicau, yang ada hanya bunyi-bunyi aneh binatang hutan, Datuk Rajo Nan Peta, kembali memainkan radio komunikasinya. Kontak bisa dilakukan dengan petugas di Posko, Asam Pulau, dekat “bunker” PLTA Singkarak, lewat frekwensi Aripan

14.3870 Mhz. Saat itu, dikabarkan rombongan telah kehabisan makanan. Ketika ditanya di mana mereka berada, tidak seorangpun yang bisa menjelaskannya. Untuk mengevakuasi, jelas tidak mungkin, posisi mereka belum diketahui.

Setelah makanan habis, persediaan air mineral pun gawat. Sementara baju sudah basah dan telapak kaki yang dibungkus sepatu pun sudah basah kuyup. Yang disebut  terakhir, ternyata  berpengaruh besar pada motivasi.

“Jika kaki sudah basah, kita akan frustasi,” kata salah seorang dari rombongan itu. Setelah berjalan beberapa jauh, masih di tepi sungai, rombongan memutuskan untuk tidak bergerak, sesuai petunjuk dari Posko Asam Pulau. kemudian diutuslah dua orang, yaitu Bakri dan Asril, (jagawana) untuk mencari desa terdekat. Berselang kemudian, sebanyak 37 orang lainnya pun berangkat dipimpin Kapolsek Letda Dedi Supriadi. Dari arah berlawanan, sejumlah penduduk desa masuk hutan untuk melakukan pencarian. Namun untuk mengevakuasi tidak mungkin, selain sudah sore, jaraknya lebih 15 mil dari desa terdekat. Sementara itu, rombongan Kapolsek Letda Dedi Supriadi pecah menjadi dua, karena tidak sepaham.

Gamawan Fauzi sendiri, dihinggapi stres. Ia ketakutan, jika saja salah seorang dari anggota rombongan hilang atau cedera bahkan mungkin mati, maka sasaran cacian pastilah dirinya. Maka, dipanggilnyalah semua anggota yang tersisa. Diminta untuk berdoa yang kemudian dipimpin Hasan Noer Datuk Kayo.

Doa orang itu, lurus dan tulus, sehingga banyak yang meneteskan air mata. Usai salat di atas batu, Gamawan meminta rombongannya untuk menghilangkan sifat sombong, dan berdoa kepada Tuhan.

“Jangan curi apa pun di hutan ini, rotan yang sempat dimasukkan ke dalam tas, tolong ditinggalkan, itu bukan milik kita,” pintanya. Semua patuh. Dalam kepatuhan yang jujur itu, perut keroncongan. Maklum tak pernah bertemu nasi.

Jumat telah memasuki malam. Pada malam itu, tak ada apa-apa lagi, yang tersisa hanya semangat untuk hidup. Maka tak  heran,  begitu Sabtu masuk,  banyak  dari rombongan yang terkena halusinasi. Sebentar-sebentar ada yang melihat rumah penduduk, melihat kebun jagung, melihat sawah, dan entah apa lagi. Hal ini makin membuat Gamawan stres.

“Kita masih dalam rimba belantara, tapi teman-teman telah melihat rumah penduduk.”

Sepanjang Sabtu suasana tak jelas. Tapi, tiba-tiba menjelang sore, Camat Mirza Nanda ditemukan oleh anggota Brimob Asril Yanto dan Riki. Ke-12 orang itu, ternyata kembali ke jalur yang benar. Mereka sampai ke Posko Air Dingin, Lubuk Minturun pukul 16.30 WIB, Sabtu.

Menurut Sekda Kabupaten Solok, Syafril Khatib, sudah 129 orang ditemukan. Sebanyak 12 orang kembali melalui Lubuk Minturun, Sabtu,  14 Agustus 1999 siang. Sorenya 2 orang kembali melalui Desa Salibutan. Sebanyak 15 orang pada Sabtu malam dan 21 orang pada Ahad melalui Pasa Usang, Lubuak Aluang. Terakhir sebanyak 79 orang kembali melalui Desa Salibutan, termasuk Bupati Gamawan Fauzi.

“Ditolong” Inyiak Harimau

Kisah yang dialami rombongan Camat Mirza Nanda memang dapat menegakkan bulu kuduk. Pada Jumat siang di tempat terpisah, rombongan Mirza Nanda dikejutkan oleh seekor harimau yang melintas di depan mereka.

“Harimau itu melintas,” kata Camat Mariza Nanda, setelah ke-12 orang itu berdoa kepada Tuhan dan disusul permintaan bantuan pada raja hutan.

“Inyiak  tolonglah  kami,  dima  kami  kini  kok  nyiak, tunjuakanlah kami jalan (Inyiak—sapaan untuk harimau kalau sedang di hutan—tolonglah kami, di manakah kami kini berada, tunjukkanlah kami jalan),” kata mereka. Tapi, mereka  tidak  tahu,  apakah  maksud  harimau menampakkan dirinya.

Salah  seorang menafsirkan  maksud harimau itu melarang rombongan untuk terus melangkah ke arah tersebut. Mereka pun berbalik. Ternyata, kemudian mereka sampai ke titik tujuan yang direncanakan, Lubuk Minturun, Padang. Mereka sampai di sana, Sabtu. “Jadi kami ditunjukkan jalan oleh raja hutan itu,” kata Mirza Nanda.

Berbeda dengan Mirza Nanda, Bupati Solok Gamawan dituntun oleh radio komunikasi milik Syafri Datuk Rajo Nan Peta, karyawan PU ini memiliki radio Orari yang bagus, sehingga bisa melakukan komunikasi dengan gubernur di darat.

“Kita bersyukur kepada Tuhan. Berkat dialah rombongan bupati bisa selamat,” kata Gubernur Sumatera Barat Mayjen Dunidja.

Bupati Gamawan Fauzi kembali pada keluarganya. Begitu juga semua anggota rombongan.

“Papa…,” kata Gina Dwi Fakhri, anak kedua Gamawan berteriak, begitu melihat ayahnya kembali dari hutan.

Gadis kecil ini tak kuasa lagi menahan kerinduannya. Ia berlari menempuh persawahan. Di pematang sawah ia peluk ayahnya, Gamawan Fauzi. Gadis itu menangis dan tak mau lagi melepaskan ayahnya. Berselang beberapa menit kemudian, istrinya, Vita Nova yang datang. Mereka berpelukan, dan air mata wanita beranak tiga itu tak terbendung lagi.

Saat ditemukan, Sabtu malam, Gamawan Fauzi berada pada satu titik, bernama Hulu Sungai Saliputan, setelah helikopter dari Pangkalan Udara Tabing menyisir hutan lebat tempat bupati ini diperkirakan berada. Dan Lanud Tabing Chairuddin Rai, yang mengomandoi pencarian lewat udara, akhirnya menemukan posisi Gamawan, dan langsung mendrop makanan.

Dari heli, Ahad, pukul 09.15, kemudian didrop lagi 350 kg makanan, terutama kurma, kemudian nasi, dan dan mie instant.  Sementara  di  Posko  Utama,  Gubernur Sumatera Barat Mayjen Dunidja terus memantau bersama Danlanal Taluak Bayua dan Kapolresta Padang, Suhardi Sigit.

Tim SAR yang berintikan anggota Brimob ditambah masyarakat setempat akhirnya menemukan rombongan Gamawan.

Diakah Sang Kandidat?

Gamawan Fauzi, Bupati yang dilahirkan 9 November 1957 ini memang menjadi tenar setelah kasusnya tersesat pekan lalu. Tapi sebelum itu, ia sudah banyak dikenal di Sumatera Barat.

Mantan Kabiro Humas Tk I Sumatera Barat ini, disebut-sebut pula tokoh yang kuat mungkin terpilih menjadi Gubernur Sumatera Barat periode mendatang. Tapi, entah iya, entah tidak, yang jelas ayah tiga anak ini, mengaku bisa memetik banyak pengalaman dari perjalanan tak terduganya itu.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Andalas 1982 itu, sebelumnya dikenal sebagai pembuat pidato gubernur, sejak Azwar Anas hingga Hasan Basri Durin. Ia terlahir sebagai anak ke delapan dari 16 orang bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga yang berdisiplin tinggi di Alahan Panjang,  sebuah  kawasan  paling  dingin  di Sumatera Barat.

Nama Gamawan, merupakan  hadiah dari teman ayahnya yang tugas belajar di Universitas Gajah Mada. Ayahnya H  Dahlan  Datuk  Bandaro  Basa,  memang mendidiknya menjadi orang yang disiplin.

Gamawan, apa boleh buat, tersesat saat napak tilas. Sejumlah wartawan pun berseloroh, “Napak tilas orang, napak tilas pula awak, akhirnya awak yang dinapaktilaskan orang.” Siapa mau napak tilas lagi? ***

Harian Republika, Padang, 27 Agustus 1999

 

Sumber: Buku Khairul Jasmi Minangkabau dalam Reportase (Kumpulan Feature), Penerbit Kabarita Padang (2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...