IN MEMORIAM
OLEH Nasrul Azwar--Jurnalis
Di tempat itu—yang ia namai Ladang Tari Nan
Jombang—Ery Mefri mengembuskan napas terakhirnya. Usianya menjelang 68 tahun.
Ia berpulang di rumah sekaligus ruang kreatif yang dibangunnya dari nol, dari
keyakinan, dari kerja tubuh yang tak pernah berhenti belajar.
Ladang itu bukan sekadar halaman dan bangunan. Ia adalah ruang gagasan. Ia adalah saksi dari ribuan jam latihan, perdebatan estetik, tawa riang penari dan anak tari, para seniman, budayawan, dan tentu jurnalis, juga kelelahan panjang setelah pentas. Di sanalah Ery Mefri menanam mimpi, memupuk tradisi, dan memanen karya.
Pulang Sebelum Waktunya
Pagi itu sejatinya adalah jadwal rutinnya menjalani cuci darah di Rumah Sakit Umum Citra Bunda Medical Center Padang. Dalam sepekan, dua kali ia harus menjalani prosedur itu—Rabu dan Sabtu. Sejak dua bulan terakhir, kesehatannya menurun akibat gagal ginjal. Riwayat diabetes telah lama menyertainya. Tubuh yang dulu tegap menari dan melatih berjam-jam, kini harus berdamai dengan jarum, selang, dan mesin. Namun Rabu itu terasa berbeda.
“Saat proses cuci darah hampir selesai, beliau meminta
dihentikan lebih awal dan ingin segera pulang,” tutur Angga Mefri, istrinya,
dengan suara yang beberapa kali terputus. “Tak lama sesampai di rumah, beliau
mengembuskan napas terakhirnya dengan tenang.”
Permintaan untuk pulang itu seperti firasat yang tak
terucap. Seolah-olah ia tahu bahwa ladang yang ia cintai adalah tempat terakhir
yang ingin ia lihat, ia rasakan, ia hirup udaranya.
Ia pulang bukan hanya sebagai pasien yang letih,
melainkan sebagai seniman yang ingin menutup hidupnya di ruang penciptaan. Di
ladang itu, anak-anak, cucu, istri-istri, dan keluarga besar berada di
sekelilingnya. Tidak ada kegaduhan. Tidak ada dramatika. Hanya keheningan yang
dalam.
“Kita semua melepas kepergian beliau ke Rahmatullah,”
kata Angga lirih.
Selama sakit, kabar tentang kondisi Ery Mefri memang
tidak disebarluaskan. Banyak sahabat dan kolega yang baru mengetahui
penyakitnya setelah ia berpulang. Itu bukan kelalaian keluarga. Itu adalah
pesan almarhum sendiri.
“Sakit den ndak ingin urang
marasoan. Kebahagiaan den ingin urang lain marasoan.”
Kalimat sederhana dalam bahasa Minang itu menyimpan
prinsip hidupnya: sakit adalah urusan pribadi, kebahagiaan adalah milik
bersama. Ia tak ingin orang ikut memikul beban tubuhnya yang melemah. Ia ingin
orang mengenangnya dalam kerja dan karya, bukan dalam keluh.
“Bagi Uda, yang perlu disuarakan adalah karya,” ujar
Angga.
Maka selama dua bulan terakhir, meski kondisi fisiknya turun, ia tetap berbicara tentang rencana. Tentang latihan. Tentang pertemuan rutin setiap tanggal 3. Tentang KABA Festival yang saban tahun menjadi ruang perjumpaan gagasan. Tubuhnya boleh rapuh, tetapi pikirannya tetap bekerja.
Dari Saniangbaka ke Panggung Dunia
Ery Mefri lahir di Nagari Saniangbaka, Kecamatan X
Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 23 Juni 1958. Ia tumbuh di
lingkungan yang akrab dengan tradisi Minangkabau—silek, randai,
kaba, dan laku adat yang melekat dalam keseharian.
Pada 1 November 1983, ia mendirikan Sanggar Nan
Jombang, yang kini dikenal sebagai Nan Jombang Dance Company. Nama “Nan
Jombang” diambil dari karya pertamanya, Nan Jombang, yang menjadi
penanda arah estetiknya: berakar kuat pada tradisi, tetapi terbuka pada tafsir
baru.
Dari silek ia belajar ketegasan garis tubuh.
Dari randai ia menyerap dramatika kolektif. Dari alam Minangkabau ia
memahami ritme dan napas ruang. Semua itu ia ramukan menjadi bahasa tubuh
kontemporer yang khas—tidak tercerabut dari akar budaya, tetapi juga tidak
terkurung oleh bentuk lama.
Puluhan karya tari lahir dari ladang itu. Sarikaik,
Rantau Berbisik, Sang Hawa, Tarian Malam, Salam Tubuh
pada Bumi, hingga Asok dari Tungku menjadi jejak panjang perjalanan
estetiknya. Karya-karya itu tidak hanya dipentaskan di Sumatera Barat atau
Indonesia. Bersama Nan Jombang Dance Company, ia telah menjelajahi lima benua,
membawa nama Indonesia dan Minangkabau ke panggung internasional.
Namun di setiap perjalanan jauh itu, ia selalu kembali
ke ladangnya. Seolah-olah sejauh apa pun kaki melangkah, akar tetap tertanam di
tanah Ladang Tari Nan Jombang.
Ladang sebagai Rumah dan Ruang
Ingatan
Ladang Tari Nan Jombang berdiri bukan dengan
kemewahan, melainkan dengan ketekunan. Dari hasil pentas, dari jaringan
pertemanan, dari gotong royong murid-murid dan sahabat, ruang itu dibangun
sedikit demi sedikit.
Di bawah pohon beringin yang rindang, ia kerap duduk
bersama para pemain dan pendukung karyanya. Berdiskusi tentang komposisi gerak.
Mengkritik dengan tajam tetapi juga merawat dengan sabar. Ladang itu menjadi
ruang pertemuan lintas generasi—tempat gagasan diuji, dipatahkan, lalu disusun
kembali. Kini, di tempat yang sama, ia beristirahat untuk selamanya.
Kamis, 12 Februari 2026, ratusan pelayat
menyalatkannya di Masjid Nurul Islam, sekitar 50 meter dari ladang. Setelah
itu, sesuai amanahnya semasa hidup, ia dimakamkan di Ladang Tari Nan Jombang.
“Papa sering berpesan, kalau kelak dipanggil Allah,
dikuburkan di sini saja. Jangan dibawa keluar,” ujar Rio Mefri, anak sulungnya.
Amanah itu sederhana, tetapi sarat makna. Ia ingin
menyatu dengan ruang yang membesarkannya sebagai seniman. Ia ingin tubuhnya
tetap berada di tengah ladang tempat ide-ide terus tumbuh.
Ery Mefri meninggalkan tiga istri, enam anak, dan
sepuluh cucu. Duka tentu tak ringan. Namun suasana perpisahan berlangsung
khidmat, tanpa histeria. Pihak keluarga menyampaikan taklimat kepada pelayat,
memohon maaf atas segala khilaf almarhum.
Di wajah keluarga dan keluarga besar Nan Jombang,
seniman, para pelayat, duka bercampur rasa kehilangan arah. Bagi sebagian dari
mereka, Ery Mefri bukan sekadar guru dan maestro tari. Ia adalah figur ayah,
mentor, sekaligus penggerak disiplin. Ia keras dalam latihan, tetapi lembut
dalam merawat potensi.
Di ladang itu, suara isak tertahan menyatu dengan
desir angin. Seolah-olah alam pun ikut menunduk. Namun di balik kesedihan itu,
keluarga bertekad menjaga api yang telah dinyalakannya.
“Insyaallah warisan beliau akan tetap kami jalankan.
Setiap tanggal 3 kami akan tetap berkumpul, dan setiap tahun untuk KABA
Festival,” ujar Angga.
Janji itu bukan sekadar kalimat penghibur. Ia adalah
komitmen untuk memastikan Nan Jombang Dance Company itu tidak menjadi monumen
sunyi. Ladang Tari Nan Jombang harus tetap menjadi ruang hidup.
Tubuh yang Diam, Jejak yang Bergerak
Kini tubuhnya memang telah diam. Tetapi jejak
estetiknya tetap bergerak. Dalam riset-riset seni, dalam skripsi dan disertasi
yang mengkaji karyanya, dalam latihan-latihan generasi baru yang masih
memanggil namanya sebagai rujukan.
Ia mengajarkan bahwa tradisi bukan benda mati. Tradisi
adalah tubuh yang harus terus dilatih, dipertanyakan, dan ditafsir ulang. Ia
menunjukkan bahwa menjadi kontemporer bukan berarti meninggalkan akar,
melainkan memahami akar dengan lebih dalam.
Kepergiannya di ladang yang ia cintai seperti
lingkaran yang sempurna. Dari tanah ia berangkat, ke tanah ia kembali. Dari
tubuh ia mencipta, dalam tubuh pula ia dikenang.
Siang itu, Ladang Tari Nan Jombang memang sunyi.
Tetapi dalam kesunyian itu, gema langkah-langkah latihan seperti masih terpatri
di tanah. Seolah-olah setiap pijakan penari yang pernah berlatih di sana
menyimpan memori tentang suara tegasnya memberi aba-aba.
Ery Mefri telah pergi. Namun ladangnya tetap
menumbuhkan. Dan selama tubuh-tubuh muda masih belajar menari di bawah rindang
beringin itu, selama gagasan masih diperdebatkan di ruang sederhana itu, selama
dentum tapuak galembong masih menggema, ia sesungguhnya belum
benar-benar pergi. Ia hanya beristirahat—di ladang yang ia cintai.
Menjaga Napas Nan Jombang
Di Ladang Tari Nan Jombang, angin sore selalu membawa
dua hal: debu halus dari tanah yang dipijak para penari, dan napas panjang
kerja yang tak pernah benar-benar usai. Maestro tari dan pendiri Nan Jombang
Dance Compan, Ery Mefri telah tiada, banyak orang bertanya-tanya: apakah Ladang
Tari Nan Jombang akan tetap berdenyut? Apakah semangat yang ia tanamkan akan
tetap menyala?
Pertanyaan itu wajar. Sebab Nan Jombang bukan sekadar
kelompok tari. Ia adalah kerja panjang, disiplin yang ditempa bertahun-tahun,
dan keyakinan bahwa berkesenian adalah jalan hidup—bukan sambilan, bukan
perayaan sesaat.
Selama lebih dari empat dekade, Nan Jombang Dance
Company berdiri sebagai salah satu—bahkan bisa disebut satu-satunya—kelompok
tari kontemporer di Indonesia yang eksis secara konsisten. Terus berproses,
terus mencipta, dan sekaligus mengelola festival secara rutin. Di tengah
banyaknya kelompok yang lahir lalu redup, Nan Jombang tetap menapaki waktu
dengan ritme yang terjaga.
Pada 2012, dalam sebuah perbincangan santai di
Komunitas Salihara, sastrawan dan budayawan Goenawan Mohamad pernah
menyampaikan pandangannya. Saat itu, ia menyebut nama Ery Mefri dan penari kuat
Angga Djamar sebagai figur penting dalam lanskap tari Indonesia, serta
menegaskan soliditas Nan Jombang Dance Company.
“Sekarang ini kita hanya punya Ery Mefri, Angga
Djamar, dan Nan Jombang Dance Company. Kita tak punya lagi koreografer dan
seniman yang seintensif mereka ini. Kita tak punya kelompok tari di Indonesia
sekuat Nan Jombang Dance Company,” ujarnya waktu itu.
Pernyataan itu bukan sekadar pujian personal. Ia
seperti penanda atas sesuatu yang lebih dalam, yaitu militansi.
Bagi Goenawan, berkesenian membutuhkan
militansi—ketekunan yang nyaris keras kepala. Dan Ery Mefri bersama Nan Jombang
menjalani itu tanpa banyak kompromi. Mereka bekerja bukan karena sorotan,
tetapi karena kebutuhan batin untuk terus bergerak.
“Berkesenian itu tak akan pernah selesai,” kata
Goenawan lagi. Kalimat itu terasa seperti cermin dari perjalanan Nan Jombang.
Setiap karya bukan titik akhir, melainkan pintu menuju pertanyaan baru. Setiap
festival bukan perayaan puncak, melainkan ruang dialog yang membuka kemungkinan
lain.
Kini, Ery Mefri
telah berpulang, militansi itu diuji: apakah ia milik satu figur, atau telah
menjelma menjadi kesadaran kolektif?
Mengelola Energi yang Tak Pernah
Padam
Dalam buku Retrospeksi: Galanggang Tari Sumatra–Padang Bagalanggang–KABA Festival (1988–2025) yang diterbitkan Nan Jombang pada 2025, jejaring kebudayaan Halim HD menuliskan refleksi yang tajam tentang posisi Nan Jombang.
Menurutnya, sesulit-sulitnya menciptakan festival,
lebih sulit lagi membentuk dan menjaga grup tari. Festival bisa disiapkan
berdasarkan jadwal dan kebutuhan. Ia punya awal dan akhir yang jelas. Tetapi
grup tari adalah energi sepanjang waktu. Ia membutuhkan latihan rutin,
pengelolaan sumber daya, disiplin anggota, visi estetik yang konsisten, dan
kepemimpinan yang tak goyah.
“Yang paling sulit adalah bagaimana mengelola grup dan
menciptakan festival seperti yang dikerjakan oleh Nan Jombang,” tulis Halim.
Ia mengingatkan bahwa Ery Mefri hadir bukan dari ruang
kosong. Ia tumbuh dari jejak para pendahulu, dari pengalaman sebagai pegawai
muda di Taman Budaya Sumbar pada 1980-an, dari kesadaran organisasi yang jarang
dimiliki seniman muda pada masanya. Ia bukan hanya koreografer, tetapi juga
organisator.
Kesadaran itulah yang membuatnya mampu merekrut
anggota, membangun solidaritas, dan menata tata kelola kelompok. Di samping
itu, kehadiran figur seperti Angga Djamar—penari andal yang sigap bekerja dan
memahami manajemen—menjadi penopang penting.
Halim berharap Nan Jombang tidak menjadi pasif. Ia
mendorong keterbukaan—melibatkan berbagai kalangan yang memiliki kompetensi dan
komitmen, baik dari tradisi maupun modern-kontemporer.
“Harapan akan lahir dan selalu hadir jika kita secara
berkelanjutan menciptakan dorongan pemikiran kritis dan membuka diri kepada
berbagai kemungkinan melalui sikap dialogis,” tulisnya.
Kalimat itu seperti pesan untuk generasi penerus:
menjaga napas bukan berarti membekukan bentuk, melainkan berani berdialog.
Keras Hati yang Menciptakan
Kesempatan
Nama Indra Utama tak bisa dilepaskan dari sejarah awal
Gelanggang Tari Sumatera, yang pertama kali digelar pada 1988. Dalam
kesaksiannya di buku yang sama, ia mengenang sikap keras hati Ery Mefri ketika
menggagas festival itu meski sumber dana belum jelas.
Saat itu, gagasan menggelar festival tari di luar
Jakarta atau Jawa terdengar nyaris nekat. Infrastruktur terbatas. Dukungan
belum tentu ada. Namun Ery Mefri melihat peluang di balik keterbatasan.
“Jika Gelanggang Tari Sumatera ini sukses, maka
Sumatera Barat menjadi pelopor kegiatan festival di luar Jakarta atau Jawa,”
kata EryMefri kepada rekan-rekannya,
seperti dikenang Indra Utama.
Semangat itu mengikat sejumlah koreografer muda
Sumatera: Indra Utama, Syaiful Erman, Ery Mefri sebagai inisiator, Dindin
Syarifudin dari Bengkulu, Yose Rizal Firdaus dari Medan, hingga Iwan Irawan
Permadi dari Pekanbaru. Mereka dipersatukan bukan oleh kemewahan fasilitas,
melainkan oleh tekad.
“Kepada saya, Ery berkata: Ketika tidak ada
kesempatan, mari kita buat kesempatan itu sendiri,” ujar Indra Utama.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung strategi
kultural yang kuat. Tidak menunggu undangan pusat. Tidak bergantung pada
legitimasi luar. Menciptakan ruang sendiri.
Dari Gelanggang Tari Sumatera, perjalanan itu
berlanjut menjadi KABA Festival—sebuah perhelatan yang kini menjadi ikon bagi
Nan Jombang dan seni pertunjukan di Sumatera Barat. Festival itu
diselenggarakan sepenuhnya oleh Nan Jombang, di tempat yang mereka bangun
sendiri: Ladang Tari Nan Jombang. Ini bukan sekadar festival. Ini adalah simbol
kemandirian.
Warisan yang Harus Bergerak
Kini, ketika orang datang ke ladang itu, mereka tidak
hanya melihat panggung dan ruang latihan. Mereka melihat sejarah kerja keras.
Mereka melihat jejak keras hati. Mereka melihat risiko yang pernah diambil.
Namun menjaga napas Nan Jombang bukan berarti
mengulang persis langkah-langkah Ery Mefri. Setiap zaman memiliki tantangan
berbeda. Jika dulu tantangannya adalah membuktikan bahwa festival bisa digelar
di luar pusat, kini tantangannya adalah bagaimana tetap relevan di tengah
perubahan lanskap seni dan teknologi.
Militansi yang disebut Goenawan Mohamad, kesadaran
organisasi yang dicatat Halim HD, dan keberanian menciptakan kesempatan yang
dikenang Indra Utama—semuanya kini menjadi warisan tak kasatmata. Warisan itu
tak bisa disimpan di lemari arsip. Ia harus dihidupkan dalam tindakan.
Ery Mefri telah dimakamkan di Ladang Tari Nan Jombang, tetapi semangatnya tidak boleh dikuburkan bersama tubuhnya. Jika ladang itu terus dipijak, jika tubuh-tubuh muda terus berani berkeringat dan berdebat, jika ruang itu tetap terbuka bagi kritik dan kemungkinan baru, maka Nan Jombang tidak hanya bertahan—ia akan terus tumbuh.
Dan mungkin, di antara desir angin dan dentum langkah latihan yang kembali terdengar, ada satu kalimat yang terus bergema: Ketika tidak ada kesempatan, mari kita buat kesempatan itu sendiri.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar