Sabtu, 03 Agustus 2013

Identitas Kultural dan Sastra yang Tersebar



OLEH SUDARMOKO


AA Navis
Suatu saat, saya pernah mendengarkan sebuah obrolan ringan tentang fenomena yang menarik tentang pengarang-pengarang Minangkabau. Mereka mencoba membagi dan melihatnya dalam beberapa bagian. Mengingat juga bahwa pembagian ini, dengan cara lain, sering dibicarakan dalam beberapa tulisan, lebih-lebih yang membicarakan tentang pengarang karya sastra Indonesia yang berasal dari Minangkabau.

Mempertimbangkan Estetika Ruang Terbuka Kota Padang


OLEH SUDARMOKO 



Penempatan berbagai macam reklame dan baliho atau informasi lain yang memanfaatkan ruang terbuka sebagai medianya tak jarang ditata tanpa mempertimbangkan estetika. Spanduk-spanduk dipasang di tempat-tempat yang tidak disediakan secara khusus, dan sering kali dipasang secara melintang di atas jalan, yang membahayakan pemakai jalan bila sewaktu-waktu jatuh. Demikian juga, tak ada aturan dan tindakan yang tegas untuk reklame atau baliho yang sudah kedaluarsa atau menyalahi tata ruang yang disediakan. Tampaknya, asal sudah membayar pajak, pemasang iklan di ruang terbuka ini bebas untuk menempatkannya dimana saja.

Minggu, 28 Juli 2013

IDENTITAS KULTURAL TERANCAM:Robohnya Rumah Gadang Kami



Rumah Gadang yanh lapuk ditelan zaman. Butuh tindakan konkret untuk penyelamatannya.  (Icol)
Saat rumah gadang itu lapuk, sebagian kayunya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Minimnya perhatian kaum dan ninik mamak terhadap rumah gadang, mempercepat hancurnya simbol adat dan budaya Minang ini.
Bukan saja surau yang telah roboh. Rumah gadang juga berangsur-angsur lenyap dari muka bumi. Rumah gadang adalah simbol pertahanan terakhir adat dan budaya Minang.

RUMAH GADANG DI AMBANG KEPUNAHAN: Terbitkan Aturan Penyelamatan Rumah Gadang


Rumah Gadang di Nagari Pariangan, Tanah Datar (gogel-sonay.blogspot.com )
Nyaris semua rumah gadang di Ranah Minang, lapuk dan kumal, dan tak lagi asli karena telah banyak bergani bentuk dan material. Dan ada juga rumah gadang menunggu roboh. Mendesak, dikeluarkan regulasi untuk penyelamatan rumah gadang yang berada di ambang kepunahan.

Kamis, 25 Juli 2013

Membangun “Tembok Minang”



OLEH Nasrul Azwar
Tulisan sederhana ini sesungguhnya tidak mengesankan bahwa dalam waktu dekat ini akan terjadi bencana di Sumatra Barat, tapi lebih ditekankan pada strategi, bentuk antisipasi, dan kesiapsiagaan masyarakat bersama pemeritah–tentu saja dengan koordinasi yang tegas semua stakeholder–untuk menghadapi ancaman bencana alam berupa gempa bumi yang selanjutnya menimbulkan gelombang tsunami yang dasyat.   
Selain memberikan pengetahuan yang cukup bagi masyarakat, dan juga menguatkan posisi institusi yang bertanggung jawab terhadap antisipasi bencana alam tsunami, dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang tsunami, membangun tembok di sepanjang pantai Kota Padang (jika perlu seluruh pantai Sumatra Barat), merupakan gagasan yang perlu dipertimbangkan.
Membangun tembok di sepanjang pantai dengan tinggi dan lebar 20 meter, bukan lagi barang baru. Di salah satu kota di Jepang, pemerintahnya sudah mewujudkannya. Masyarakat Jepang yang akrap dengan gempa bumi yang berpotensi memicu tsunami, “memagar” kotanya dengan tembok raksasa. Saya pernah menonton film dokumenternya, dan masyarakat kota itu menjadi tidak merasa cemas lagi dengan adanya tsunami pascagempa bumi.
Hebatnya lagi, di atas tembok itu, dengan jalur kendaraan yang cukup luas (20 meter), munculnya tsunami menjadi tontonan wisatawan.

Bajulo-julo Membangun Dinding Laut


OLEH Nasrul Azwar
Setelah artikel saya tentang perlunya dinding laut dibangun sebagai salah satu bentuk upaya antisipasi gelombang Tsunami yang didirikan sepanjang pantai Sumatra Barat dimuat di surat kabar ini (Singgalang, 22/10/2007), dan keesokan harinya muncul tulisan Emeraldy Chatra (Padang Ekspres, 23/10/2007), dalam nada yang sama, saya mengirim pesan singkat ke telepon genggam Wali Kota Padang Fauzi Bahar.
Isinya: “Bagaimana pendapat Bapak tentang gagasan membangun dinding laut di sepanjang pantai Sumatra Barat itu, terutama Pantai Padang, yang yang turun di dua surat kabar itu?” Wali Kota menjawab: “Sebagai sebuah wacana atau gagasan, cukup bagus. Dan ini perlu diwacanakan secara luas. Jepang telah membuktikan, dan tembok itu sangat bermanfaat besar bagi masyarakatnya.” Lalu saya balas: “Bagaimana dengan Kota Padang, apakah bisa dirancang pembagunannya? Dan ini saya kira tidak menggaduh benar dengan perencanaan pembangunan kota ini ke depan.” Dijawab: Ya, semua itu akan berpulang pada anggaran. Anggaran sangat terbatas.” Sampai di situ kami “berdiskusi”.

IMAM MAULANA ABDUL MANAF: Manusia Langka dari Minangkabau


OLEH Yusriwal
Peneliti dan pengajar di Fakultas Sastra Unand
Imam Maulana Abdul Manaf
Sekali tempo, penulis buku yang berjudul Menyoal Wahdatul Wu­jud: Kasus Tanbih Almasyi Ka­rangan Syekh Abdurrauf Singkel, Oman Fathurahman, berkunjung ke Padang. Ia terkejut tatkala mengun­jungi seorang buya yang tinggal di ping­giran Kota Padang, tepatnya di Batang Kabung, Koto Tangah. Keterkejut­annya beralasan karena dalam tesis­nya yang dijadikan buku tersebut me­nyebutkan bahwa di dunia hanya ter­dapat empat kitab Tanbih Almasyi ka­rangan Syekh Abdurrauf Singkel, tetapi ternyata buya tersebut juga me­miliki kitab itu, malahan buya itu sendiri yang menyalinnya.
Buya yang dimaksud bernama Imam Maulana Abdul Manaf. Dia tinggal di sebuah surau yang terletak bersebelahan dengan Pesantren Mad­rasah Tarbiyah Islamiah (PMTI). Dia merupakan sosok yang dermawan. Tanah seluas lebih kurang lima hektare kepunyaannya disumbangkan untuk pendirian PMTI.

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...