Jumat, 13 September 2013

Tentang Anas Nafis

Redaksi: Ruang ini sebagai ruang yang didedikasikan untuk budayawan Anas Nafis. Tulisannya ini akan diturunkan secara berkala di sini. Salam
Anas Nafis lahir di Padang Panjang, 9 Januari 1932, meninggal dunia di Padang, 18 April 2007 pada umur 75 tahun. Anas Nafis adalah seorang peneliti, akademisi, seniman, budayawan dan tokoh Sumatera Barat. Anas Nafis sendiri adalah adik dari sastrawan Ali Akbar Navis (AA Navis). Bapaknya bernama Navis gelar Sutan Marajo, seorang pegawai Staatsspoorwegen (jawatan kereta api zaman Belanda), dan ibunya bernama Sawiyah. 

Tentang Anas Nafis, bisa juga dibaca di Anas Nafis Referensi Berjalan

Kamis, 12 September 2013

30 Tahun Terakhir Tak Ada Novel Bermutu dari Sumatera Barat


Novel Persiden Membawa Warna Baru
OLEH Darman Moenir
Sastrawan
DARMAN MOENIR DAN ISTRI
Tidak ada pemenang utama Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2010. Novel Persiden karya Wisran Hadi dari Padang, Sumatera Barat, menjadi salah satu novel unggulan sayembara itu. Tiga novel unggulan lain adalah Lampuki, Jatisaba, Memoar Alang-alang yang ditulis oleh Ramalda Akmal, Hendri Teja, dan Arafat Nur.
Masing-masing novelis unggulan menerima hadiah 7,5 juta rupiah, dan hadiah 20 juta rupiah yang semestinya diberikan kepada pemenang pertama tak jalan. Pegumuman disampaikan Komite Sastra DKJ selaku panitia pelaksana di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat, (14/1/2011). Dan otoritas penjurian diserahkan sepenuhnya kepada Anton Kurnia, A.S. Laksana, dan Sapardi Djoko Damono.

Senin, 09 September 2013

Oedipus Kompleks, Dampak Psikologis Sistem Matrilineal



OLEH Yusriwal
Minangkabau merupakan suku bangsa yang unik karena sampai saat ini masyarakatnya masih menganut sistem kekerabatan matrilineal. Di Nusantara ini, Minangkabau memang bukan satu-satunya suku bangsa yang menganut sistem ini, namun yang membedakan dengan suku bangsa yang menganut sistem matrilineal lainnya adalah pada kekhasan sistemnya: keseimbangan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Wawancara dengan Gusrizal Gazahar, Kabid Fatwa MUI Sumbar



Maksiat Cermin Masyarakat Rusak
“Menjamurnya mak
Gusrizal Gazahar
asiat mencerminkan masyarakat yang sudah rusak. Kerusakan itu terjadi akibat kesalahan setiap elemen pemimpin negeri ini. Akibatnya, ketika masyarakat sudah menjadi bagian dari maksiat, maka, maksiat itu akan menjadi perbutan yang dinilai biasa,” kata Gusrizal Gazahar dalam wawancara dengan Rahmat Hidayat. Berikut petikan lengkap wawancara itu.
Apa yang Anda katakan terkait maraknya perbutan maksiat akhir-akhir ini di Ranah Minang?
Perbuatan maksiat mengundang murka Allah. Secara pribadi saya prihatin dengan bermunculannya beragam maksiat yang dilaporkan media massa akhir-akhir ini. Hal tersebut tentu mencederai perasaan kita sebagai orang Minang. Apalagi, Minang dikenal kental dengan nilai-nilai religius sejak dulu.  
Pada dasarnya, daerah Minangkabau merupakan daerah yang menguntungkan untuk melaksanakan dakwah Islam. Namun, kecepatan tumbuhnya kejahatan maksiat, tidak sebanding dengan kamampuan lembaga-lembaga dakwah untuk mengiringnya.

Wawancara dengan Saafroedin Bahar, Tokoh Perantau Minang



Tak Setuju Ranah Minang Sarang Maksiat
Saafroedin Bahar
“Selama ini, secara normatif masyarakat Minangkabau merasa dan menyatakan diri berdasar pada norma-norma adat Minangkabau dan agama Islam. Dalam kenyataannya sudah banyak yang menyimpang,” kata Saafroedin Bahar, salah seorang tokoh Minang berdomisili di Jakarta.

Menurutnya, seyogyanya salah satu sistem norma saja sudah lebih dari cukup untuk menangkal gejala kemaksiatan ini. Nyatanya bahkan kombinasi keduanya tidak lagi cukup ampuh. Jelas ada masalah mendasar yang perlu dibenahi. Berikut ini wawancara Nasrul Azwar dengan Saafroedin Bahar, yang kini menjabat Ketua Dewan Penasihat Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang (Gebu Minang).
Sepanjang 6 bulan terakhir, Sumatera Barat tak lepas maraknya perbuatan maksiat, dan puluhan tertangkap dalam razia malam. Bagaimana komentar Anda?

TUNGKU TIGO SAJARANGAN TAK JALAN: Minangkabau Dipenuhi Maksiat


Satpol PP lakukan razia (Foto Haswandi)
Hotel kecil, penginapan, dan home stay rawan digunakan untuk tempat maksiat. Penginapan seperti ini marak di sekitar Danau Maninjau. Tampaknya maksiat bukan hal tabu lagi di Minangkabau.
Menurut tatanan adat di Minang, maksiat adalah perilaku yang bertentangan dengan budaya orang Minang. Di zaman dulu, bila ada yang tertangkap dalam perbuatan maksiat, keduanya digiring beramai-ramai dan diikuti dengan gendang tempurung.



Laporan terkait baca wawancara dengan Saafroedin Bahar, tokoh perantau Minang, dan
Gusrizal Gazahar, Kabid Fatwa MUI Sumbar


Rabu, 14 Agustus 2013

207 HARI PDRI YANG NYARIS DITENGGELAMKAN


Bangsa yang Gagap Jujur pada Pahlawannya
OLEH NASRUL AZWAR
Kami, Presiden Republik Indonesia, memberitakan bahwa, pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948, djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat menjalankan kewadjibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia, untuk membentuk Pemerintah Darurat di Sumatera
Jogjakarta, 19 Desember 1948
Presiden                                            Wakil Presiden
Soekarno                                           Moh. Hatta

Secarik surat berupa telegram itu, kendati ditujukan langsung kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara—yang saat itu menjabat Menteri Kemakmuran—tak pernah sampai ke tangannya. Besar kemungkinan, telegram itu tak pernah sampai karena Gedung PTT di Yogyakarta keburu diduduki Belanda pada Minggu 19 Desember 1948, itu.
Belanda memang sudah sering mengkhianati hasil perundingan. Beberapa jam sebelum penyerangan itu, pada 18 Desember 1948, pukul 23.30, Dr Beel, Wakil Tinggi Mahkota Belanda menyatakan bahwa Belanda tak terikat lagi dengan Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948. Di sinilah berawal Perang Kemerdekaan Kedua.

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...