Selasa, 17 September 2013

Minangkabau dalam Ranah Kemaksiatan


Semua Pihak Harus Introspeksi 


Satpol PP mengamankan seorang perempuan di Fellas Café Padang beberapa waktu lalu. Nas
Akhir September 2011 lalu, mungkin terasa sangat berat bagi warga Minang, terutama yang berada di ranah ini. Ada noktah yang merusak, dan itu dinilai sangat memalukan. Rentetan peristiwa maksiat mengguncang Ranah Minang. Di satu sisi, warga Sumatera Barat juga mengenang dua tahun gempa dahsyat, 30 September 2011.
Mengapa tidak? Filosofi adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang menjadi perdoman masyarakat Minang selama ini, seperti mendapat ujian berat. Dipengujung bulan itu, paling tidak ada tiga peristiwa yang membuat kaget semua orang yang berhasil diekspos media cetak.  
Pertama berita dua penari telanjang yang digerebek petugas Satpol PP Kota Padang di Fellas Cafe di Jalan Hayam Wuruk Padang pada Senin 26 September 2011 malam. Kedua, pada Kamis tengah malam 29 September 2011 Satpol PP Kota Solok bersama POM TNI dan Provost Polresta Solok juga menangkap delapan janda dan ibu rumah tangga sama-sama bertelanjang dengan tiga lelaki pekerja tambang dari Dharmasraya di Wisma Melati, Jalan Jenderal Sudirman Kota Solok. Kecuali seorang dari Lampung, tujuh wanita itu juga pribumi Sumatera Barat.

Wawancara Puti Reno Raudha Thaib


Mari Kembali ke Keluarga Inti dan Kaum
Puti Reno Raudha Thaib
Pemerintah harus memiliki keberanian untuk membersihkan maksiat. Untuk mengembangkan ABSSBK, pemerintah harus memilih: Apakah hanya untuk keuntungan profit yang dipikirkan atau pemeliharaan adat dan budaya?
“Ada ambiguitas di sini. Peraturan telah disusun berdasarkan adat dan agama, namun pelaksanaannya tidak ada,” kata Puti Reno Raudha Thaib, Ketua Umum Bundo Kanduang Sumatera Barat, sembari mengajak agar masyarakat Minang, kembali ke ketahanan keluarga inti dan kaum.
Puti Reno Raudha Thaib juga mengeritik program Asmaul Husna dan pembacaan ayat kursi yang getol dilakukan Pemko Padang. “Jangan hanya menjadi hafalan tapi diamalkan. Untuk anak-anak madrasah pertamanya adalah keluarga, dan ibu adalah guru pertama bagi anak. Jika ini kuat maka keluarnya juga akan kuat. Masih ada harapan dengan sistem kaum , apakah kita sepakat kembali ke sistem tersebut.” Berikut petikan wawancara Meidella Syahni dengan Puti Reno Raudha Thaib.

Wawancara Darman Moenir


Ini Memang Masalah Sosial, Bukan Moralitas
Darman Moenir


Tidak adil juga memberi beban terlalu berat kepada pemerintah untuk “mengurus” Ranah Minang. Sumatera Barat tidak sama dengan Ranah Minang. Namun, selagi pemerintah (Provinsi Sumbar, kota, kabupaten) ambivalen, setengah hati, memberantas makasit, maka perbuatan maksiat itu akan tetap eksis.
“Saya tidak mau masuk ke frasa moralis “peristiwa memalukan itu” tetapi ini memang masalah sosial, masalah ekonomi dan masalah seksual,” kata Darman Moenir, sastrawan kelahiran Sawah Tangah, Batusangkar, 27 Juli 1952 yang baru saja menerbitkan novelnya Andika Cahaya ini. Berikut petikan wawancaranya dengan Nasrul Azwar.
Apa komentar Anda tentang tarian telanjang dan beredarnya video porno yang diperagakan anak SMA beberapa waktu yang mencoreng kening Minangkabau itu?

Wawancara Free Hearty


Jangan Menutup Mata Terhadap Realitas
Free Hearty
Terjaringnya perempuan yang melakukan porno aksi sebagai penari striptis di depan sekelompok lelaki memang sangat mengejutkan dan menampar wajah Minangkabau. Karena selama ini, Walikota Padang Fauzi Bahar dengan gencarnya menyosialisasikan berpakaian muslim dan Asmaul Husna.
“Yang mengejutkan tentu bukan kebijakan yang diterapkan itu, tetapi bagaimana pemaknaan dan implementasi dari semua kebijakan itu. Apakah hanya sampai pada tataran seremonial saja, hanya dipermukaan saja dan tidak menyentuh yang esensi dari kebjakan tersebut. Sehingga Asmaul Husna hanya sebagai hafalan saja, dan jilbab hanya menjadi “fashion” saja. Ironis kan?
Sebaiknya mulai dipikirkan ajaran dan pendidikan yang mampu memasuki pemikiran, perasaan dalam pemahaman spiritual masyarakat dengan  baik,” kata Dr Free Hearty, yang kini mengajar di Al Azhar Jakarta dan baru saja menyelesaikan buku “Keadilan Gender, Perspektif Feminis Muslim” ini. Berikut petikan wawancara dengan Nasrul Azwar dengan mantan dosen di UBH ini.

Wawancara Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo



Menjadi Tanggung Jawab Pemimpin Masyarakat

Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo


Hampir tidak ada perempuan yang terperosok ke dalam dunia hitam tersebut yang melakukannya secara suka rela. Bermacam-macam faktor yang bisa menjadi penyebab, seperti dicerai suami, ditinggalkan pacar, atau tidak adanya keterampilan untuk berusaha sendiri.
“Kenyataan bahwa kedua penari telanjang yang tertangkap tersebut menutup mukanya menunjukkan bahwa mereka masih mempunyai rasa malu,” kata Saafroedin Bahar, Ketua Dewan Pakar di Sekretariat Nasional Masyarakat-Hukum Adat ini.
Ia sendiri mengaku kurang tahu apakah para tokoh-tokoh kepemimpinan masyarakat Sumatera Barat–bersama pemerintah daerah dan kalangan cendekiawan–pernah, bisa, atau mau, duduk bersama untuk membahas masalah perubahan sosial ini secara mendasar, untuk kemudian merumuskan langkah kebijakan bersama yang akan dianut dan dilaksanakan.  Oleh karena gejala ini bukan merupakan gejala sesaat, akan lebih baik lagi kalau kegiatan ‘duduk bersama’ tersebut  dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Berikut petikan wawancara dengan Nasrul Azwar. 

Sabtu, 14 September 2013

Makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang


OLEH Anas Nafis
(http://penuliscemen.com/socialmediasumbar/)
Makam Datuak Parpatiah Nan Sabatang
SUATU hari pada tahun 1959, saya bersepeda ke Lubuk Basung bersama Wahdi Halim. Setelah melewati Desa Gasan Kaciak, tampak di sebelah kanan jalan sebuah pondok. Pondok itu lebarnya tidak lebih dari tiga setengah meter, beratap rumbia, dinding tadia (anyaman bambu) berlantai pelupuh. Di lantai dari bahan bambu ini duduk seorang wanita tua bersama seorang gadis kecil.
“Itu Siti Manggopoh” ujar Wahdi. Saya mengangguk-angguk sembari mengayuh sepeda melanjutkan perjalanan.
Kembali dari Lubuk Basung saya singgah di pondok tersebut bersama Sersan Mayor Mukhtar BODM Pakandangan. Sedangkan Wahdi telah lebih dulu kembali ke Gasan Gadang. Ketika itu kami berbicara keras-keras dengan Ibu Siti, karena pendengaran beliau sudah mundur. Itu cerita tahun 1959.

Jumat, 13 September 2013

POLEMIK SASTRA: Arogansi Sastra Kanon


OLEH Devy Kurnia Alamsyah
Bukan Sastrawan

Devy Kurnia Alamsyah
APA jadinya jika Dewan Juri memilih memenangkan Hendri Teja ketimbang Wisran Hadi? Sudah tentu ia akan bereaksi akan itu. Novel Hendri Teja yang berjudul “Memoar Alang-alang” ini diilhami oleh tokoh faktual Tan Malaka dengan latar belakang pergerakan nasionalisme di era pemerintahan kolonial Belanda.
Tumbuh kembangnya dunia kesusastraan di Indonesia tak bisa lepas dari institusi-institusi yang menaungi dunia kesustraan itu sendiri. Bahkan, ketika Indonesia belum berdiri, di era Hindia Belanda peran Balai Pustaka sangat mengambil peran—terutama dalam menentukan karya sastra. Kenapa ini menarik, karya-karya di luar Balai Pustaka dinilai sebagai karya liar dan ketika karya itu diterima oleh khalayak luas maka akan muncul cap roman picisan terhadap karya liar tersebut.
 Ini menjadi tonggak dasar labelisasi karya sastra bermutu dan tidak. Salah satu karya yang disebut roman picisan itu adalah Pacar Merah Indonesia yang ditulis oleh Matu Mona (nama samaran Hasbullah Parindurie).

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...