Rabu, 23 Oktober 2013

Kaba Sabai Nan Aluih


OLEH Anas Nafis

PENGANTAR

Cerita klasik ini disadur dari KABA SABAJ NAN HALUIH sebagaimana yang dituliskan Dr. Ph. S. van Ronkel dalam TBG. deel 56 – 1914.
Tidak seperti susunan yang termuat dalam TBG tersebut, dalam menyalin kembali kaba atau cerita ini dirombak dan diperbaiki penyajiannya termasuk penyesuaian ejaan agar enak dibaca.
Sebenarnya kaba atau cerita Sabai Nan Aluih ini tidaklah tertata dalam struktur adat Minangkabau yang baku.
Dalam cerita ini diriwayatkan Rajo Nan Panjang membunuh Rajo Babandiang, yaitu ayah si Sabai karena lamarannya ditolak.
Dalam adat Minangkabau seorang ayah tidaklah berperan atau menentukan jodoh anak-anaknya. Sebagai seorang sumando dalam keluarga istrinya sang bapak boleh dikatakan sebagai tukang aminkan saja.
Seharusnya Rajo Nan Panjang berang kepada mamak si Sabai, sebab mamaklah yang berperan dalam menentukan jodoh si Sabai dan bukan ayahnya, yaitu Rajo Babandiang.

Anas Nafis  

Busur Pelangi di Ngarai Sianok: Membaca Kover Belakang Mangkutak di Negeri Prosa Liris





OLEH Fadlillah Malin Sutan
Pengajar FIB Unand dan Kandidat Doktor di Universitas Udayana
seperti lukisan siluet seorang perempuan duduk merentang tangan di bibir lembah Sianok ketika senja, sehingga ketika dilihat dari jauh seakan memegang pelangi jadi busur, memanah ke langit
Tidak seperti biasa, membaca kover belakang kumpulan puisi Mangkutak di Negeri Prosa Liris (2010), yakni membacanya dari belakang, dimulai dari kanan, tidak dari kiri, seperti membuka al Qur’an, terasa lain. Bagian belakang merupakan sesuatu yang terpinggirkan di zaman semua orang lebih mementingkan kulit depan. Jangan kan  bagian belakang, bagian isi pun sering di anggap tidak begitu penting, karena yang lebih penting kulit depan. Sebuah puisi di kulit belakang, yang bukan bagian dari kumpulan puisi, mungkin puisi “dari kumpulannya terbuang” (cf Charil Anwar). Kulit depan sebagai pusat, belakang sebagai pinggir dan dipinggirkan, orang struktural menyebutnya oposisi binner.

Asal Usul Nama Indonesia dan Merdeka



OLEH Anas Nafis


Sungguhpun nama Indonesia “orang bule” yang menemukan, namun di jaman penjajahan dulu Pemerintah Belanda yang juga “bule-bule” enggan mendengar apalagi memakainya. Mereka lebih suka memakai kata Inlanders, Inheemse (Bumi Putera) atau Bevolking van Nederlandsch Indie (penduduk Hindia Belanda).
Tuan Kreemer dalam “Het Koloniaal Weekblad” tahun 1927, mengatakan nama Indonesia itu dianjurkan atau didorong pemakaiannya oleh orang-orang pergerakan komunis dan ulah orang-orang pers.

SETELAH KEPERAGAIAN TEUNGKU H ADNAN PMTOH: Teater Tutur Aceh Terancam Punah


OLEH  Sulaiman Juned
Dosen Seni Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang

H Adnan
Lima puluh tahun bersolo karier, (almarhum) Teungku H Adnan P.M.T.O.H berusaha mencari penggantinya agar kesenian Aceh yang disebut teater tutur ini memiliki penerusnya. Namun sayang sampai, dengan Teungku Adnan menghadap sang khalik (meninggal dunia dalam usia 75 tahun, pada tanggal 4 Juli 2006), belum mampu menemukan penggantinya seperti beliau.
Kesenian teater tutur berasal dari peugah haba yang berarti berbicara dengan bercerita semacam bakaba di Minangkabau. Sering juga disebut masyarakat Aceh poh tem  berarti orang yang pekerjaannya bercerita. Ada juga yang menyebutnya dangderia seperti drama monolog atau berbicara sendiri. Teater tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan  Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan properti mainan anak-anak, serta kostum.

MEMABACA KELOMPOK RANAH TEATER: Susunan Besi, Kabel, dan Gugatan Jatidiri


OLEH Esha tegar Putra
Latiahan Ujicoaba
“Biarkan saja Yang Mulia gagap,” teriak S Metron M selaku sutradara yang sedang menggarap naskah Ujicoba karya Wisran Hadi pada sesi latihan di ruang studio di Fakultas Ilmu Budaya Unand beberapa waktu lalu. Segera, salah seorang pelakon yang berperan sebagai Yang Mulia berperan sebagaimana adanya dirinya di luar perannya tersebut. “Kapan lagi yang Mulia itu gagap,” lanjut sutradara yang menginterpretasikan ‘Yang Mulia’ (salah satu pelakon) dalam pengertian keseharian masyarakat bisa jadi sesuatu yang sempurna.

Gandang Tasa, Musik Perkusi Ritmik Minangkabau

OLEH Asril Muchtar
Dosen ISI Padangpanjang

Ensambel gandang tasa atau disebut juga gandang tambua secara musikal termasuk ke dalam ensambel perkusi ritmik tanpa melodi. Tidak ada alat musik yang difungsikan sebagai instrumen melodi.  Juga tidak ada gendang yang ditala dengan nada-nada tertentu yang difungsikan sebagai instrument melodi, seperti alat musik  taganing pada etnik Batak Toba di Sumatra Utara.
Gandang Tasa merupakan ensambel musik perkusi yang tergolong paling besar di Minangkabau. Besar dari aspek bentuk, ukuran, suara, jumlah alat musik yang digunakan, bahkan juga dari segi guna dan  fungsinya dalam kegiatan adat dan ritual. Kebesaran guna dan fungsinya tampak dari penggunaan Gandang Tasa pada berbagai upacara adat yang bersifat prosesi yang ditampilkan di ruangan terbuka, seperti mengarak penganten dan pendukung upacara Upacara Tabuik di Pariaman.

Tupai

CERPEN  Zelfeni Wimra

Buya Irsyad belum juga tahu, perihal apa yang membuat nyaris semua orang yang hadir tertawa saat ia baru saja bercerita soal tupai. Ia tidak ada bermaksud melucu. Ia menggunakan perumpamaan tupai ditujukan untuk memberi perncerahan kepada para pejabat yang sedang kena sanksi administrasi lantaran tidak loyal kepada lembaga dan diduga tersandung tindak penyalahgunaan wewenang. Ajudan gubernur membisikkan cerita tersebut menjelang Buya tampil dan memintanya menjadikan tema ceramah.

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...