Rabu, 23 Oktober 2013

MEMABACA KELOMPOK RANAH TEATER: Susunan Besi, Kabel, dan Gugatan Jatidiri


OLEH Esha tegar Putra
Latiahan Ujicoaba
“Biarkan saja Yang Mulia gagap,” teriak S Metron M selaku sutradara yang sedang menggarap naskah Ujicoba karya Wisran Hadi pada sesi latihan di ruang studio di Fakultas Ilmu Budaya Unand beberapa waktu lalu. Segera, salah seorang pelakon yang berperan sebagai Yang Mulia berperan sebagaimana adanya dirinya di luar perannya tersebut. “Kapan lagi yang Mulia itu gagap,” lanjut sutradara yang menginterpretasikan ‘Yang Mulia’ (salah satu pelakon) dalam pengertian keseharian masyarakat bisa jadi sesuatu yang sempurna.

Gandang Tasa, Musik Perkusi Ritmik Minangkabau

OLEH Asril Muchtar
Dosen ISI Padangpanjang

Ensambel gandang tasa atau disebut juga gandang tambua secara musikal termasuk ke dalam ensambel perkusi ritmik tanpa melodi. Tidak ada alat musik yang difungsikan sebagai instrumen melodi.  Juga tidak ada gendang yang ditala dengan nada-nada tertentu yang difungsikan sebagai instrument melodi, seperti alat musik  taganing pada etnik Batak Toba di Sumatra Utara.
Gandang Tasa merupakan ensambel musik perkusi yang tergolong paling besar di Minangkabau. Besar dari aspek bentuk, ukuran, suara, jumlah alat musik yang digunakan, bahkan juga dari segi guna dan  fungsinya dalam kegiatan adat dan ritual. Kebesaran guna dan fungsinya tampak dari penggunaan Gandang Tasa pada berbagai upacara adat yang bersifat prosesi yang ditampilkan di ruangan terbuka, seperti mengarak penganten dan pendukung upacara Upacara Tabuik di Pariaman.

Tupai

CERPEN  Zelfeni Wimra

Buya Irsyad belum juga tahu, perihal apa yang membuat nyaris semua orang yang hadir tertawa saat ia baru saja bercerita soal tupai. Ia tidak ada bermaksud melucu. Ia menggunakan perumpamaan tupai ditujukan untuk memberi perncerahan kepada para pejabat yang sedang kena sanksi administrasi lantaran tidak loyal kepada lembaga dan diduga tersandung tindak penyalahgunaan wewenang. Ajudan gubernur membisikkan cerita tersebut menjelang Buya tampil dan memintanya menjadikan tema ceramah.

Senin, 21 Oktober 2013

CATATAN DARI MIMBAR TEATER INDONESIA #3 SOLO: Parade Panggung Kaum Kusam



OLEH Nasrul Azwar

Pementasan Interogasi Teater Noktah di MTI#3 Solo
Di atas panggung, setiap malam, manusia-manusia dipaparkan dengan segenap kemanusiawiaannya. Properti yang efesien. Ada lelaki tua, Jumena Martawangsa, rapuh iman yang merasa ajalnya kian dekat namun cemas hartanya jatuh ke tangan istrinya. Dia tak percaya lagi kepada orang lain. Ada Emak yang memberi angin surga pada sosok lugu bernama Abu. Sandek, aktivis buruh dengan multikepribadian menggugat sisi kemanusiaan Direktur Umum.
Panggung teater selama lima hari—minus Kalanari Teater yang menggunakan ruang terbuka— diisi dengan tokoh-tokoh yang idiot, cacat pincang, profesi pelacur, tubuh berkudis, bisu, gembel, para bandit, dan orang-orang tersisih dari kehidupan sosialnya. Semua sebagai representasi kegetiran hidup orang-orang yang tak jelas identitasnya dalam statistik negara. Pentas pun didominasi warna muram hitam, gelap, dan sunyi.

Minggu, 20 Oktober 2013

WACANA MUSIKUM: Imprezione Musik Minangkabau Bercita Rasa World-Jazz



OLEH Nurkholis
Dosen, Komposer, Konduktor, dan Pengamat Musik

Imprezione Musik Minangkabau Bercita Rasa World-Jazz
 Terma musik jazz seringkali melekat dengan suatu gaya permainan musik yang memiliki hubungan khusus dalam waktu (tempo, metrik, frasa, aksentuasi, dinamika, legato-staccato, densitas ritmik, dst...) yang didefinisikan sebagai 'ayunan' untuk sebuah spontanitas dan vitalitas produksi musik­­---wujud di dalam kemerduan improvisasi---, dan cara ungkap yang mencerminkan individualitas dari musisi jazz itu sendiri. Play what do you feel, and feel what do you play (Mainkan apa yang engkau rasakan, dan rasakan kembali apa yang telah engkau mainkan).

Batang Jambu Tumbuh di Perut Suami Saya



CERPEN Romi Zarman

Untuk ketiga kalinya, anak saya kembali menangis. Saya sudah membujuknya. Tapi ia tetap tak mau. Ia minta dicarikan jambu. Bukan jambu yang ada di pasar, tapi jambu yang langsung dari batang. Seperti yang pernah dibawakan ayahnya tiga hari yang lalu. Saya sudah berusaha mencarinya, ke sekeliling rumah. Tapi tetap tak ada batang jambu. Semua ini gara-gara dini hari itu.
Waktu itu suami saya pulang membawa jambu biji di tangan. Katanya, ia mendapatkan langsung dari batang. Anak saya langsung memakan. Enak sekali, katanya. Saya pun ikut menikmati.
Besoknya, suami saya terbaring, tak berdaya menggerakan badan. Katanya, “Perut saya terasa sakit.”
“Apakah karena jambu semalam?”
 “Entahlah,katanya.
Saya berikan obat. Saya suruh istirahat. Tapi tak mujarab. Sakitnya tak mau pergi. Dengan apakah saya harus mengusirnya?  Ke Puskesmas, kata tetangga. Saya jalankan itu usulan. Akan tetapi, diluar dugaan, Puskesmas juga tak bisa membantu. Katanya, “Suami Ibu tak apa-apa. Hanya sakit perut biasa.”

Dua Masjid Satu Imam



CERPEN Andika Destika Khagen

I
Sumber: www.vebidoo.de
Aku jarang pulang ke kampung. Bila ada kesempatan untuk pulang, itu pastilah karena dua orang: Emak dan Mamak.
Emakku begitu perindu. Sebulan saja aku tidak pulang, ia bisa saja sakit. Anehnya, bila aku telah di sampingnya, dan menciumi keningnya yang berkerut,  Emak tiba-tiba saja sehat. Seolah-olah tidak pernah sebelumnya ia merasa sakit. ”Kamu harus sering pulang, Jang,” tutur Udaku.
Baik Emak maupun Uda, pernah berkeinginan aku menetap saja di kampung. Dua hektare tanah peninggalan Bapak masih belum digarap. Tanah itu telah diberikan kepadaku, tersebab Emak tak punya anak perempuan. Aku tak menjawab tawaran Uda. Ia tentu tahu aku tidak pernah diajarkan memegang cangkul, bertanam padi, dan mengenal pekerjaan yang bisa dijadikan pegangan untuk hidup.

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...