Kamis, 24 Oktober 2013

Leva Kudri Balti, Seniman Tradisi dari Bunga Pasang


Leva Kudri Balti

“Tradisi itu sesuatu yang unik… dan itu adalah saya...”
Ungkapan yang berkali-kali keluar dari mulut Leva Kudri Balti ketika saya mewawancari pria berkulit putih ini.
Leva Kudri Balti, S.Sn., M.Sn., lahir 24 Mei 1985 di Bunga Pasang, Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ia anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Liviati, S.Pdi (guru SD) dan Badrul C.H. (PNS). Levandra Balti (kakak) dan Leva Azmi Balti (adik), yang saat ini sedang menempuh perkuliahan di Jurusan Farmasi Universitas Andalas.
Menamatkan SD dan SMP di kampung halaman. Uni—sapaan sayang di lingkungan asal yang pada saat itu mulai aktif berkesenian semenjak bergabung di Paduan Suara dan solo song—mulai mengikuti kegiatan berkesenian, dalam rangka Perseni pada kelas 5 SD. Meninggalkan kostum merah putih tak membuat pria yang begitu dekat dengan ibunya ini meninggalkan kegiatan kesenian, terbukti ketika duduk di bangku SMP tahun 2011, Leva aktif di kelompok Marching Band, paduan suara dan melukis.

Degradasi Kepemimpinan Adat di Minangkabau



OLEH Bustanuddin Agus
Dosen FISIP Unand

Ninik mamak, para penghulu dan orang Minang bernostalgia untuk kembali menjadi pemimpin yang kuat dan berwibawa seperti sebelum masuknya penjajah? Berwibawa seperti era kerajaan Pagaruyung sebelum bercokolnya penjajah Belanda? Bukankah sekarang sudah reformasi dan otonomi? Bukankah Sumatera Barat sekarang sudah kembali ke sistem pemerintahan nagari?

Aura Kaba, Narasi Rupa



OLEH  Yasraf Amir Piliang
Dosen Program Pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Disain, ITB

Alai-alai tabang ka alai
Tabanglah pipit duo tigo
Kaba lah lamo tabangkalai
Kini diulang-ulang pulo
‘Kaba’ (kabar) adalah mekanisme kultural yang memanifestasikan esensi manusia sebagai homo homini socius. Sapaan “A kaba?” (Apa kabar?) adalah ungkapan terdalam rasa sosial dan kencintaan sesama manusia. Kita mungkin tak perlu menanyakan atau memberi kabar seseorang, tanpa dorongan rasa sosialitas dan kebersamaan itu. Kaba, dengan demikian, adalah sebuah mekanisme sentral dalam arsitektur sosial, yang melibatkan bahasa, rasa, nalar dan imajinasi. Inilah yang membedakan manusia dari hewan, yaitu pada kapasitas pemahaman dan ‘imajinasi’ tentang ‘kebersamaan’ sebagai manusia. ‘Bakaba’ (berkabar atau ‘memberi kabar’) menunjukkan keniscayaan rajutan alam sosialitas manusia, yang merasa perlu saling berkabar satu sama lain secara sosial.
Yasraf Amir Piliang
Kaba adalah sebuah tindak komunikasi (communicative action), yang melaluinya pesan (message), berupa nasehat dan petuah, disampaikan dari penyampai (sender) ke para pendengar (receiver), baik itu pesan personal, adat, sosial, politik, kultural maupun agama. Ia juga sebuah bentuk wacana (discourse), yaitu sebuah ajang ‘pertukaran’ (exchange), tidak saja pertukaran bahasa gerak, tetapi juga tindakan (action). Kaba juga sebuah ekspresi estetik, karena dalam intensitas tertentu ia mengandung nilai dan memberikan pengalaman estetik. Bakaba, berarti menyampaikan pesan secara komunikatif, tetapi juga mengungkapkan sesuatu secara estetis. Kaba, mempunyai fungsi konatif (conative) untuk merepresentasikan realitas ke dalam cerita, tetapi juga sebuah ‘tindak’ (performative), untuk menghadirkan sesuatu.

Rabu, 23 Oktober 2013

Catatan Pementasan “Petang di Taman”: Membaca Taman dalam Tanda Kutip

OLEH Nasrul Azwar

Pementasan "Petang di Taman"
Pada sebuah taman entah di kota mana, awalnya tampak sepi, lalu gaduh. Dua sosok menggugat eksistensinya. Taman—galibnya—adalah representasi kota sekaligus identitas bagi warga kota. Taman sebagai ruang publik, ruang sosial, mungkin juga antisosial, jadi keniscayaan bagi kota modern dan metropolitan. Ia ikon modernisme. Tapi, bisa jadi, taman bagi seorang sastrawan—Iwan Simatupang, misalnya—dalam pengertian tanda kutip. Sebaliknya, ada juga taman dalam pengertian dinas pertamanan.
Panggung teater seperti taman “beneran”. Bukan taman sebagai tempat bergulat berbagai pemikiran dan kemanusiaan. Pohon-pohon rindang, dua bangku, bunga-bunga terpaku dan beku. Warga kota singgah ke taman melepas lelah sembari bermain dengan ternak piaran dengan harga tak masuk akal. Ada juga yang datang ke taman dengan kemurungan, hati dongkol, marah, dan mabuk. Tapi, ada juga yang berbahagia. Taman adalah potret kehidupan sosial sesungguhnya dari kondisi bangsa Indonesia hari ini.

Perempuan dan Dewan Minangkabau

OLEH Anas Nafis
Pengantar
Pada tahun 1945, di Bukit Tinggi ada seorang dokter wanita pribumi. Orang menyebutnya Dokter M. Thomas. Di jaman penjajahan Belanda dulu, selain sebagai dokter, ia juga duduk sebagai pengurus S.K.I.S. (Serikat Kaum Ibu Sumatera). Barangkali ia satu-satunya kaum perempuan yang mengecap pendidikan tinggi di jaman penjajahan dulu.
Sekarang tahun 2005, jadi enam puluh tahun kemudian, situasi sudah jauh berbeda. Entah sudah berapa ratus atau mungkin juga ribuan kaum perempuan yang meraih gelar kesarjanaan.

RAGA TARI: Fisikalitas Budaya dan Tubuh Politik

Catatan Pertunjukan Tari “Senandung Impian” dan “Jalan Pulang”
OLEH Sahrul N 
Dosen Teater ISI Padang Panjang
Tari Senandung Impian. Foto Wendy
Pascasarjana ISI Padang Panjang dalam dua tahun terakhir ini telah melahirkan seniman-seniman pencipta karya seni yang secara akademis perlu dimintai pertanggungjawabannya. Selama ini, khusus untuk penciptaan seni tari terdapat kekecewaan mendalam karena tidak adanya pergumulan konsisten dengan epistemologi raga. Di kalangan mereka yang menggeluti seni pertunjukan tari terdapat nihilnya yang berpijak pada fisikalitas raga yang mampu memahami raga tari sebagai produsen budaya-politik. Seyogyanya seniman pencipta tari memandang kreasi tari sebagai sebuah bentuk teorisasi, yang menjiwai dan dijiwai oleh proses penjabaran signifikansi raga. 

BARAT DANTIMUR DALAM TEKS SASTRA: Perbincangan Postkolonial



OLEH Yetti A.KA
Mahasiswa Program Pascasarjana UGM
Yetti A.KA
Pencitraan negatif yang dilakukan oleh bangsa Barat terhadap Timur banyak terdapat dalam kisah-kisah perjalanan. Dalam buku-buku itu, bangsa Timur sering digambarkan sebagai bangsa terbelakang dan asing. Faruk (2001) berpendapat bahwa, berdasarkan bacaannya atas buku Mirror of the Indies: A History of Dutch Colonial Literature karangan  Rob Nieuwenhuys, imperialisme dan kolonialisasi tidak hanya menempatkan wilayah jajahan sebagai suatu wilayah tempat terbukanya peluang bagi eksploitasi sumber-sumber ekonomi, melainkan juga sebagai sebuah dunia sosial dan kultural yang asing, yang berbeda dari dunia penjajah. Perbedaan itu tidak hanya dipahami sebagai sebuah perbedaan yang netral, horizontal, melainkan mengandung nilai yang bersifat hierarkis dan vertikal. Bangsa penjajah memosisikan diri sebagai kelompok sosial yang berposisi sebagai subjek, arogan, superior, di hadapan masyarakat setempat.

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...