Jumat, 25 Oktober 2013

NOVEL ANDIKA CAHAYA: Biografi Museum Kekuasaan


OLEH Fadlillah Malin Sutan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas


Andika Cahaya, novel Darman Moenir itu, sepertinya tidak berbicara tentang cahaya, pada hakekat ia berkisah tentang kegelapan. Perangai manusia yang diibarat bagai metabolisme yang sakit manahun. Pada akhirnya, yang jadi korban, peradaban sebuah bangsa, sia-sia (Moenir,2012:146,147), sampai tiga generasi. Pembusukan itu, mencapai klimaks dieksekusi perubahan zaman. Dari kegelapan perangai manusia itu, tentu, ada memungkinkan terawang pembaca untuk berpikir tentang perlunya cahaya, tentang Nur, kebenaran.

Kamis, 24 Oktober 2013

Percintaan Anjing (Romeo & Yuliet Versi Waw Waw)

CERPEN Alwi Karmena
Kalau seperti dulu, semasa dirinya dipanggil orang sebagai Welky, tak sulit baginya menjelang daerah realestat sekelas Giriyatama itu. Rumah mewah tempat Klara yang berpagar beton tinggi, bukanlah halangan baginya. Berdiri saja dia di pintu pagar, satpam akan bergegas membukakan pintu. Tapi itu dulu. Kini tak mungkin lagi, namanya sudah jatuh. Sejak tuannya Pak Dongkrat ditangkap polisi karena korupsi, dia terbuang, seriring dengan pindahnya keluarga Pak Dongkrat. Mereka menghilang pindah melarikan malu. Welky tak dibawa serta mengungsi. Dia ditinggal saja dengan sia-sia. Tak ada yang memelihara.

Catatan dari Temu Teater Mahasiswa Nusantara I: Tangan dan Dimensi yang Rumit

OLEH Delvi Yandra
Aktivis di Teater Rumah Teduh
 
Pertunjukan dari teater UMIMakassar
Ada tradisi yang kerap dilakukan oleh kelompok Teater Tangan sejak kegiatan Temu Teater Mahasiswa Nusantara I (Temu Teman I) di Benteng Somba Opu, Makassar tahun 2002 hingga yang terkini—Temu Teman IX—di Bandar Serai, Pekanbaru, Riau, 24-29 Oktober 2011.
Tradisi tersebut adalah memasang gelang tali berwarna merah kepada setiap peserta Temu Teman sebelum pementasan berlangsung.
“Merah melambangkan darah. Darah itulah yang mengikat tali persaudaraan. Memang, sejak awal, cita-cita Temu Teman adalah untuk menjalin silaturahmi,” ujar Amah, salah satu anggota Teater Tangan.

Leva Kudri Balti, Seniman Tradisi dari Bunga Pasang


Leva Kudri Balti

“Tradisi itu sesuatu yang unik… dan itu adalah saya...”
Ungkapan yang berkali-kali keluar dari mulut Leva Kudri Balti ketika saya mewawancari pria berkulit putih ini.
Leva Kudri Balti, S.Sn., M.Sn., lahir 24 Mei 1985 di Bunga Pasang, Painan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ia anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Liviati, S.Pdi (guru SD) dan Badrul C.H. (PNS). Levandra Balti (kakak) dan Leva Azmi Balti (adik), yang saat ini sedang menempuh perkuliahan di Jurusan Farmasi Universitas Andalas.
Menamatkan SD dan SMP di kampung halaman. Uni—sapaan sayang di lingkungan asal yang pada saat itu mulai aktif berkesenian semenjak bergabung di Paduan Suara dan solo song—mulai mengikuti kegiatan berkesenian, dalam rangka Perseni pada kelas 5 SD. Meninggalkan kostum merah putih tak membuat pria yang begitu dekat dengan ibunya ini meninggalkan kegiatan kesenian, terbukti ketika duduk di bangku SMP tahun 2011, Leva aktif di kelompok Marching Band, paduan suara dan melukis.

Degradasi Kepemimpinan Adat di Minangkabau



OLEH Bustanuddin Agus
Dosen FISIP Unand

Ninik mamak, para penghulu dan orang Minang bernostalgia untuk kembali menjadi pemimpin yang kuat dan berwibawa seperti sebelum masuknya penjajah? Berwibawa seperti era kerajaan Pagaruyung sebelum bercokolnya penjajah Belanda? Bukankah sekarang sudah reformasi dan otonomi? Bukankah Sumatera Barat sekarang sudah kembali ke sistem pemerintahan nagari?

Aura Kaba, Narasi Rupa



OLEH  Yasraf Amir Piliang
Dosen Program Pascasarjana Fakultas Seni Rupa dan Disain, ITB

Alai-alai tabang ka alai
Tabanglah pipit duo tigo
Kaba lah lamo tabangkalai
Kini diulang-ulang pulo
‘Kaba’ (kabar) adalah mekanisme kultural yang memanifestasikan esensi manusia sebagai homo homini socius. Sapaan “A kaba?” (Apa kabar?) adalah ungkapan terdalam rasa sosial dan kencintaan sesama manusia. Kita mungkin tak perlu menanyakan atau memberi kabar seseorang, tanpa dorongan rasa sosialitas dan kebersamaan itu. Kaba, dengan demikian, adalah sebuah mekanisme sentral dalam arsitektur sosial, yang melibatkan bahasa, rasa, nalar dan imajinasi. Inilah yang membedakan manusia dari hewan, yaitu pada kapasitas pemahaman dan ‘imajinasi’ tentang ‘kebersamaan’ sebagai manusia. ‘Bakaba’ (berkabar atau ‘memberi kabar’) menunjukkan keniscayaan rajutan alam sosialitas manusia, yang merasa perlu saling berkabar satu sama lain secara sosial.
Yasraf Amir Piliang
Kaba adalah sebuah tindak komunikasi (communicative action), yang melaluinya pesan (message), berupa nasehat dan petuah, disampaikan dari penyampai (sender) ke para pendengar (receiver), baik itu pesan personal, adat, sosial, politik, kultural maupun agama. Ia juga sebuah bentuk wacana (discourse), yaitu sebuah ajang ‘pertukaran’ (exchange), tidak saja pertukaran bahasa gerak, tetapi juga tindakan (action). Kaba juga sebuah ekspresi estetik, karena dalam intensitas tertentu ia mengandung nilai dan memberikan pengalaman estetik. Bakaba, berarti menyampaikan pesan secara komunikatif, tetapi juga mengungkapkan sesuatu secara estetis. Kaba, mempunyai fungsi konatif (conative) untuk merepresentasikan realitas ke dalam cerita, tetapi juga sebuah ‘tindak’ (performative), untuk menghadirkan sesuatu.

Rabu, 23 Oktober 2013

Catatan Pementasan “Petang di Taman”: Membaca Taman dalam Tanda Kutip

OLEH Nasrul Azwar

Pementasan "Petang di Taman"
Pada sebuah taman entah di kota mana, awalnya tampak sepi, lalu gaduh. Dua sosok menggugat eksistensinya. Taman—galibnya—adalah representasi kota sekaligus identitas bagi warga kota. Taman sebagai ruang publik, ruang sosial, mungkin juga antisosial, jadi keniscayaan bagi kota modern dan metropolitan. Ia ikon modernisme. Tapi, bisa jadi, taman bagi seorang sastrawan—Iwan Simatupang, misalnya—dalam pengertian tanda kutip. Sebaliknya, ada juga taman dalam pengertian dinas pertamanan.
Panggung teater seperti taman “beneran”. Bukan taman sebagai tempat bergulat berbagai pemikiran dan kemanusiaan. Pohon-pohon rindang, dua bangku, bunga-bunga terpaku dan beku. Warga kota singgah ke taman melepas lelah sembari bermain dengan ternak piaran dengan harga tak masuk akal. Ada juga yang datang ke taman dengan kemurungan, hati dongkol, marah, dan mabuk. Tapi, ada juga yang berbahagia. Taman adalah potret kehidupan sosial sesungguhnya dari kondisi bangsa Indonesia hari ini.

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...