OLEH Alizar Tanjung
![]() |
| Lelah Mengejar Engkau" (Hajriansyah) |
Ketika Padang memutuskan
tinggal di kotanya, dia telah mempertimbangkan segala sesuatu yang berhubungan
dengan darah, daging, dan tulangnya. Darahnya darah Padang. Dagingnya daging
Padang. Tulangnya tulang Padang. Dia telah mempertimbangkan baik dan buruknya
tinggal di Kota Bingkuang. Tinggal bersebelahan dengan Emmahaven yang kini telah
berganti nama dengan Teluk Bayur. Tempat ‘orang rantai’ yang telah almarhlum
mengalirkan keringatnya demi membangun Emmahaven di tahun 1890. Tempat para
buruh yang tak berijazah Sekolah Dasar mengadu nasibnya mengangkut barang impor
dan ekspor. Telah ia kaji untung dan rugi. Sampai hal sedetil-detilnya,
seumpamanya nanti ia benar-benar menjadi petani bingkuang yang miskin. Sebab
bingkuang hanya laku 5.000 rupiah satu ikat. Kalau ada yang 10.000 rupiah satu
ikat hanyalah karena peruntungan baik saja. Dia telah mempertimbangkan pula
kemungkinan terburuk suatu hari entah kapan ia akan menjadi lelaki lapuk
bersama musnahnya bingkuang dari kotanya. Sebab mucikari tanah yang berlomba-lomba
membangun proyek; gudang penumpukan, bulk cargo, mol, hotel, restoran siap saji
di kotanya.

