Pengajar Fakultas Sastra Universitas
Jember dan Koordinator Kajian Perempuan Desantara, Jakarta
Sebuah fenomena menarik, cerita legendaris Damarwulan-Menakjinggo yang
diilhami kisah perang Paregreg yang kemudian sering dilakonkan dalam
pertunjukan Jinggoan dengan cerita yang merendahkan martabat rakyat Blambangan
justru sangat digemari oleh masyarakat Using Banyuwangi selama bertahun-tahun.
Implikasi cerita tersebut membuat masyarakat Using memikul beban yang mendalam
sampai mengidap gejala psikologis sindroma rendah diri, seolah-olah
berprototipe jahat, pemberontak, dan mabuk kekuasaan seperti halnya
Menakjinggo.1 Kisah
Damarwulan-Menakjinggo merupakan sejarah barat-timur (mulai dari zaman
Majapahit-Blambangan sampai Mataram-Blambangan) selalu diwarnai hubungan yang
tidak harmonis, peperangan, dan penaklukan.

