OLEH Desi Sommalia Gustina
Berbagai hal yang
menyangkut perempuan tampaknya selalu menarik untuk diperbincangkan, bahkan ditulis
menjadi ide sebuah karya sastra. Misalnya menulis cerita perempuan dengan masa
lalu yang kelam, dengan luka-luka yang menganga dan air mata yang tak kunjung mengering,
dan sekian hal lain yang bisa dirangkai menjadi cerita. Sejatinya menulis
cerita dengan bingkai luka dan air mata—yang diantaranya banyak dialami oleh
kaum perempuan, jika diracik dan digarap dengan baik, tanpa menyerahkan
penggarapannya ke bawah telapak kaki penindasan pesan, bukan tidak mungkin ia akan
menjelma menjadi sebuah cerita yang sangat menarik, yang tidak akan kehilangan
kesan bagi pembacanya. Meskipun cerita-cerita tersebut hanyalah sehimpun kisah
dengan cita rasa yang suram.
Tetapi, menulis
cerita tentu saja bukan sekadar menyulam tumpukan luka, mereka-reka peristiwa,
menghadirkan tokoh-tokoh, dan menampilkannya dengan bahasa yang menggugah rasa
semata. Menulis cerita ibarat seni dalam menyentuh dan menggetarkan hati dan
nalar pembacanya. Mengajak pembacanya menghayati kembali berbagai situasi hidup
yang seringkali tidak terselami dan tidak terpahami, yang ditransformasi kepada
sinyal-sinyal dan getaran dalam cerita.



