OLEH Deddy Arsya
Di atas sebuah bendi yang sedang menuju
ke pinggiran kota, di samping kusir yang telaten memainkan tali kekang, duduk
Bahder Johan. Usianya belum belasan tahun ketika itu. Dari
atas bendi itu, dengan mata kanak-kanaknya, dia menyaksikan serdadu-serdadu
berkuda (kavelari) Belanda tampak berparade di jalan-jalan kota. Mereka, kenang
Bahder Johan di kemudian masa yang jauh, “berkeliling kota dengan gagah tapi
menakutkan.”





