Selasa, 27 Mei 2014

GARAK NAGARI PEREMPUAN: Koreografi dari Pembacaan Atas Perempuan dalam Kaba dan Realita Minangkabau

OLEH Susas Rita Loravianti
Kandidat Program Doktor (S3) di ISI Surakarta
Rumah gadang yang akan dijadikan lokasi pertunjukan
Latar Belakang Karya
Masyarakat Minangkabau dikenal sebagai salah satu komunitas yang menerapkan sistem matrilineal, yaitu garis keturunan secara adat diatur menurut ibu. Namun jauh di balik itu, masyarakat Minangkabau sebenarnya juga menganut sistem matriarkhi (matriarkhaat), di mana perempuan memiliki posisi strategis dalam kekuasaan. Menurut Thaib, perempuan Minangkabau secara ideal harus berperan dan berfungsi sebagai; pertama, puncak dan basis dari sistem kekeluargaan yang disebut matrilineal; kedua, pemimpin masyarakatnya; ketiga, pemeran utama dalam kehidupan sosial budaya; keempat, figur yang mulia dan dimuliakan; dan kelima, tokoh, pejuang, pendidik, jurnalis, politisi, bisnis, dan berbagai bidang dan aktivitas lainnya (2010a: 4).

Jumat, 23 Mei 2014

Festival Sastra KOBIMO: Festival Sastra Online Pertama di Indonesia


Pada 5-7 Juni mendatang, grup facebook KOBIMO yang selama ini rutin mengadakan kelas belajar menulis, akan mengadakan festival sastra yang menghadirkan para penulis muda berprestasi Tanah Air.
Beda dari festival sastra lainnya, festival yang satu ini diadakan secara online. Setiap kegiatan dilakukan melalui metode chatting antara narasumber dengan peserta dan dipandu dua moderator. Festival ini bisa dibilang unik karena semua peserta tidak bertatap muka. Yang terpenting dari festival ini adalah tukar pikiran, interaksi dan menguatkan jalinan persahabatan antar-anggota yang sudah melebihi 20 ribu orang.

Kamis, 22 Mei 2014

Wabah Penyakit dan Penanganannya di Sumatera Barat (1873-1939)

OLEH  Deddy Arsya
Di atas sebuah bendi yang sedang menuju ke pinggiran kota, di samping kusir yang telaten memainkan tali kekang, duduk Bahder  Johan.  Usianya belum belasan tahun ketika itu. Dari atas bendi itu, dengan mata kanak-kanaknya, dia menyaksikan serdadu-serdadu berkuda (kavelari) Belanda tampak berparade di jalan-jalan kota. Mereka, kenang Bahder Johan di kemudian masa yang jauh, “berkeliling kota dengan gagah tapi menakutkan.” 

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...