Sabtu, 28 Februari 2026

Membaca Presentasi Empat Teater Sumatera Barat dari Dramaturgi Pascadramtik Kai Tuchmann

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis

“Rumput liar tidak memiliki akar yang dalam, tidak memiliki bunga dan daun yang indah, tetapi ia menyerap embun, air, darah, dan daging orang mati… Selama hidup, ia diinjak-injak dan dipotong, sampai mati dan membusuk”.


Metafora “rumput liar” yang dikutip Kai Tuchmann dari sajak Lu Xun dalam buku Dramaturgi Pascadramatik: Resonansi antara Asia dan Eropa (2025) yang diterbitkan Kalabuku, Yogyakarta, bukan sekadar pembuka puitik melainkan pernyataan ideologis tentang teater pascadramatik.

Kai Tuchmann menyiratkan bahwa teater pascadramatik diposisikan sebagai praktik yang hidup di luar pagar institusi, tumbuh di tanah keras, diinjak, dipotong, namun menyerap sejarah kekerasan dan denyut sosial di sekitarnya. Teater tidak lagi dibayangkan sebagai taman yang tertata rapi, melainkan sebagai organisme yang bertahan melalui ketegangan dan represif, juga tekanan.

Dimensi politis digambarkan  kasat mata bagaimana teater independen di Tiongkok beroperasi di bawah bayang-bayang sensor negara (shencha). Menariknya, meskipun kontrol terhadap konten sangat ketat, ruang bagi eksperimen formal justru relatif terbuka. Namun justru di titik inilah pertanyaan kritis perlu diajukan: apakah dramaturgi pascadramatik masih bekerja sebagai sikap subversif, atau telah berubah menjadi estetika baru yang normatif—bahkan jinak—dalam lanskap teater kontemporer, termasuk di Indonesia dan Sumatera Barat, tentunya?

Pascareformasi 1998 relatif teater tidak lagi mengalami sensor negara secara terbuka, tetapi pembatasan “kuasa” hadir dalam bentuk lain seperti sensor pasar-publik, regulasi dana hibah, kuratorialisme-festivalisme, dan birokrasi kebudayaan. Dalam konteks ini, pascadramatik sering diterima sejauh ia aman secara politis, bebas bentuk, tetapi minim konflik sosial yang eksplisit

Hans-Thies Lehmann, “Bapak Pascadramatik”—guru Kai Tuchmann, editor buku Dramaturgi Pascadramatik: Resonansi antara Asia dan Eropa—menandai krisis drama sebagai pusat teater modern dengan runtuhnya narasi linear, tokoh psikologis, dan konflik Aristotelian. Tapi tampaknya, Kai Tuchmann melangkah lebih jauh dengan menggeser fokus dari “apa itu teater pascadramatik” menuju bagaimana kerja dramaturgi dilakukan setelah drama tidak lagi menjadi pusat. Dramaturgi dipahami sebagai praktik lintas bidang, pengelolaan situasi pertunjukan, relasi tubuh, ruang, ekonomi produksi, pedagogi, realitas sosial-budaya, hingga kritik pengetahuan.

Kendati begitu, pergeseran ini tidak netral. Dengan menolak definisi tunggal dan merayakan pluralitas praktik, dramaturgi pascadramatik membangun normativitas baru secara diam-diam. Fragmentasi, non-linearitas, dan pengalaman sensorik sering diasumsikan otomatis progresif. Kritik perlu diarahkan pada risiko ketika pascadramatik berubah dari alat kritik menjadi gaya global. Pertunjukan lebih menaruh perhatian pada peristiwa panggung bukan adegan.

Lalu, bagaimana dengan teater di Sumatera Barat? Bagaimana kita membacanya hari ini, dan adakah praktik teater yang mentransformasikan dirinya ke ranah pascadramatik?

Tentunya pertanyaan-pertanyaan di atas  saya ajukan dengan kesadaran bahwa pembacaan semacam itu tidak bisa dilakukan secara menyeluruh terhadap kelompok teater yang ada di Sumatera Barat. Dalam tulisan ini, saya hanya mencoba mengapresiasi empat pertunjukan yang berlangsung dalam rentang 2024–2025 yang dilakukan di Sumatera Barat, itupun dengan keterbatasan akses dan perspektif. Sebab, tidak semua pementasan teater pada periode tersebut dapat saya baca melalui kacamata dramaturgi pascadramatik sebagaimana dirumuskan Kai Tuchmann dalam bukunya.

Empat pementasan yang menurut saya menunjukkan kecenderungan pascadramatik antara lain Sabai in Kaba (2024) karya dan sutradara Kurniasih Zaitun; The Mighty Malin Kundang (2025) sutradara Fabio Yuda; Indomiiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik (2025) garapan Mahatma Muhammad; serta Pintu (2025) karya dan sutradara Yusril Katil. Tentu saja, para kreator ini juga menghadirkan karya-karya lain di luar judul-judul tersebut, namun dalam tulisan ini saya sengaja membatasi pembacaan hanya pada pertunjukan-pertunjukan yang disebutkan di atas.

Tentu saja di luar itu rentang tahun itu, sepanjang 2024–2025 di Sumatera Barat berbagai festival dan iven seni juga menghadirkan pertunjukan teater dari beragam komunitas, dan jumlahnya relatif banyak. Lanskap ini menunjukkan bahwa praktik teater di Sumatera Barat sesungguhnya cukup dinamis. Namun, tidak semuanya secara langsung bergerak atau dapat dibaca dalam kerangka dramaturgi pascadramatik.Nah,  justru di titik inilah ruang pembacaan dan perdebatan terbuka—antara praktik, konteks lokal, dan kemungkinan perluasan teater kontemporer di daerah.

Sabai in Kaba: Pascadramatik sebagai Strategi Pembacaan Ulang Kaba

Kaba Sabai Nan Aluih sebagai sastra tutur Minangkabau pada mulanya beroperasi dalam rezim naratif yang linear, bertumpu pada bahasa, alur kisah, dan transmisi nilai-nilai normatif melalui tuturan. Namun, ketika kaba ini dipentaskan dalam konteks teater kontemporer sebagaimana tampak dalam pementasan Sabai in Kaba yang terjadi bukan sekadar adaptasi cerita, melainkan transformasi cara berpikir teater itu sendiri. Di titik inilah pendekatan pascadramatik menjadi relevan, bukan sebagai gaya estetika semata tetapi  sebagai strategi dramaturgis untuk membaca ulang tradisi yang demikian kaya dimiliki budaya Minangkabau. Teater Sabai in Kaba ini dipentaskan dalam ajang Festival International Theater University of Casablanca (FITUC) di Maroko pada tanggal 4-5 Juli 2024.


Dalam kerangka pascadramatik sebagaimana dirumuskan Lehmann dan diperluas oleh Kai Tuchmann, teater tidak lagi bertumpu pada supremasi teks, melainkan pada situasi pertunjukan (peristiwa), tubuh, ruang, dan pengalaman penonton. Pertunjukan Sabai in Kaba yang digarap perempuan sutradara Indonesia, Kurniasih Zaitun, bergerak ke arah ini dengan secara sadar menggeser kaba dari narasi verbal menuju pengalaman performatif nirkata, dominasi visual, fisikal, dan fragmentaris. Pilihan dengan pendekatan teater nirkata menjadi fondasi penting dalam pembacaan pascadramatik Sabai in Kaba. Dalam konteks pascadramatik, pengurangan teks bukanlah kehilangan makna, melainkan pembukaan ruang interpretasi yang lebih luas dan variatif.

Pada tahap ini tubuh performer tidak lagi berfungsi sebagai penyampai cerita tapi sebagai medium memori budaya. Gerak menjadi bahasa,  diam menjadi pernyataan. Pertunjukan Kaba Sabai Nan Aluih tidak “diceritakan kembali”, tetapi dihadirkan sebagai jejak pengalaman sesuatu yang dirasakan, bukan dijelaskan. Pendekatan ini sekaligus memungkinkan Sabai in Kaba melampaui batas linguistik Minangkabau dan berbicara kepada penonton lintas budaya dan bangsa.

Kendati begitu, dilihat dari perspektif dramaturgi pascadramatik, Sabai in Kaba memiliki kelemahan yang merupakan konsekuensi pilihan estetiknya. Penghapusan hampir total teks verbal kaba Sabai Nan Aluih memang membuka ruang interpretasi, tetapi berisiko mengaburkan lapisan historis dan sosial kaba. Narasi lisan yang direduksi menjadi tubuh dan visual cenderung mengabstraksikan konflik adat dan posisi etis dan kultural Sabai sehingga pengalaman penonton kuat secara sensorial namun lemah secara kontekstual.

Dominasi visual  juga membuat pascadramatik bekerja sebagai atmosfer, bukan tensi dramaturgis yang berkembang. Tubuh tampil simbolik tetapi belum sepenuhnya terbaca sebagai medan konflik budaya konkret. Akibatnya, transformasi berisiko mengosongkan konteks tradisi.

The Mighty Malin Kundang: Pascadramatik di Tapal Batas

Dalam beberapa tahun terakhir, Fabio Yuda bersama Komunitas Payung Sumatera tampil dalam praktik teater yang produktif dan signifikan di Sumatera Barat. Karya-karya mereka, khususnya yang berangkat dari kisah mitologi legenda Malin Kundang, tidak lagi memperlakukan sastra lisan itu sebagai narasi yang harus disampaikan secara utuh tetapi sebagai pemantik pengalaman reflektif.

Dalam pertunjukan teater The Mighty Malin Kundang yang disutradarai Fabio Yuda dan penata gerak Venny Rosalina, narasi hadir dalam bentuk yang terfragmentasi dan direkontekstualisasi melalui tubuh performer, suara, ritme, bunyi dan simbol visual sehingga makna tidak dibangun lewat alur dramatik linear, melainkan melalui pengalaman kolektif di ruang pertunjukan. Teater The Mighty Malin Kundang saya saksikan dalam Festival Nan Jombang Tanggal 3 pada 3 Mei 2025 Gedung Manti Menuik Ladang Tari Nan Jombang.


Pada konteks ini, strategi dan pendekatan yang dilakukan Fabio Yuda terhadap The Mighty Malin Kundang menunjukkan korelasi kuat dengan logika teater pascadramatik, yakni dominasi tubuh sebagai medium utama, minim dialog, struktur non-linear, serta relasi ruang yang menghadirkan kedekatan fisik dengan penonton. Namun, Payung Sumatera tidak sepenuhnya meniadakan narasi. Tradisi—dalam hal ini kisah Malin Kundang dan idiom randai—tetap dijadikan jangkar, bukan untuk direpresentasikan ulang secara ilustratif, melainkan untuk dipertanyakan dari dalam. Distorsi randai yang mereka lakukan dalam The Mighty Malin Kundang memperlihatkan proses panjang yang menjadikan legenda sebagai medan eksplorasi etis dan kultural.

Dalam tafsir Fabio Yuda, Malin Kundang tidak semata dipahami sebagai kisah kedurhakaan anak terhadap ibu, melainkan sebagai metafora kedurhakaan manusia terhadap lingkungan, bahasa, dan nilai budaya. Penonton tidak diajak mengikuti cerita, tetapi dihadapkan pada pertanyaan tentang posisi mereka sendiri dalam “ke-Malin Kundang-an” kehidupan modern.

Dalam konteks ini, garapan The Mighty Malin Kundang itu, sang sutradara dan penata gerak berada di wilayah perbatasan yang penting antara dramaturgi tradisi yang diremediasi dan pascadramatik yang berorientasi pada pengalaman. Posisinya berada di tapal batas. Karyanya mungkin tidak sepenuhnya pascadramatik secara teoretik dengan batasan yang ketat, tetapi justru di situlah signifikansinya: menunjukkan bagaimana pascadramatik dapat dibumikan tanpa tercerabut dari konteks lokal Minangkabau.

Pertunjukan The Mighty Malin Kundang dalam kacamata dramaturgi pascadramatik, juga serupa dengan yang dialamai Sabai in Kaba memiliki kelemahan yang muncul sebagai konsekuensi pilihan estetiknya. Pecahnya narasi ke dalam unit-unit pengalaman dan dominasi tubuh serta simbolisasi  memang membuka ruang refleksi, tetapi berisiko melemahkan ketegangan dramaturgis karena tidak terakumulasi menjadi perkembangan situasi yang progresif. Distorsi randai dan simbol visual yang didominasi properti cermin di atas panggung juga cenderung menghasilkan makna yang terlalu implisit terasa ambigu dan terkesan berhenti sebagai properti saja.

 Posisi The Mighty Malin Kundang di wilayah perbatasan juga tidak sepenuhnya tradisional, yang belum membangun struktur dramaturgi baru membuat pascadramatik berfungsi lebih sebagai strategi estetik daripada mesin dramaturgi yang konsisten. Strategi ini menurut saya cukup kuat mengakarkan dirinya di tanah lokalitas.

Indomiiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik dalam Perspektif Pascadramatik

Dari sudut pandang teater pascadramatik, pertunjukan Indomiiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik beroperasi bukan sebagai representasi cerita, melainkan sebagai medan benturan tanda, tubuh, dan material sosial-budaya. Pertunjukan ini secara sadar menanggalkan struktur dramatik klasik—tokoh, konflik, dan alur kausal—dan menggantikannya dengan komposisi parataktik yang memadatkan elegi agraria, satir pangan, dan absurditas visual dalam satu pengalaman performatif yang fragmentatif kolosal.

Judul pertunjukan sudah bekerja sebagai perangkat pascadramatik. Judul teater ini meminjam bahasa iklan, logika rasa instan, dan peribahasa populer yang dipelintir, bukan untuk membangun makna simbolik tunggal, tetapi untuk menciptakan gesekan semiotik dengan relasi sosial, ekonomi-politik, dan gaya hidup . Dalam kerangka pascadramatik, bahasa verbatim kehilangan fungsi komunikatif-naratif dan berubah menjadi material bunyi, slogan, dan propaganda yang dipamerkan sebagai gejala yang masif. Peristiwa  satiris yang tidak diarahkan untuk meyakinkan, melainkan untuk menyingkap bagaimana wacana “kemajuan” dan “kemakmuran” bekerja sebagai simulasi dan demonstrasi.

Tubuh performer tidak hadir sebagai karakter, melainkan sebagai tubuh-warga, tubuh yang membawa residu kebijakan, tubuh yang berhadapan langsung dengan plastik, limbah, dan ruang industri pangan, serta ekologis-lingkungan. Kehadiran material plastik, yang meresap ke tanah, laut, dan perut berfungsi sebagai objek pascadramatik yang menolak metafora indah. Ia tidak “mewakili” pencemaran, tetapi secara literal hadir sebagai sisa peradaban, menggeser pertunjukan dari ranah representasi ke ranah presentasi material.

Struktur pertunjukan bersifat non-linear dan non-verbal. Tidak ada resolusi dramatik, yang tersisa adalah akumulasi sensasi, citra, dan ketegangan etis dan sosial. Dalam logika pascadramatik, makna tidak disediakan, tetapi diproduksi oleh penonton melalui pengalaman simultan dari peristiwa yang berlangsung di atas penggung. Visual yang bertabrakan, bahasa propaganda yang hiperbolik, dan tubuh yang bekerja dalam kondisi hampir grotesk dan massal. Penonton tidak diarahkan untuk empati, melainkan ditempatkan sebagai saksi yang terlibat secara kognitif dan afektif. Grotesk adalah estetika yang menampilkan kejanggalan dan distorsi, memadukan yang lucu dan mengerikan, untuk mengguncang rasa nyaman penonton dan membuka kritik terhadap realitas sosial yang tersembunyi di balik hal-hal yang tampak normal.

Lebih jauh, praktik yang penciptaan teater Indomiiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik yang dilakukan Mahatma Muhammad bersama dengan KSNT memperkuat watak pascadramatik pertunjukan ini. Dramaturgi tidak lahir dari naskah final, melainkan dari konteks sosial, ruang warga, dan situasi kolektif Pekan Nan Tumpah. Narasi bersifat cair, temporer, dan situasional—selaras dengan gagasan Tuchmann tentang praktik “rumput liar”: tumbuh di sela-sela institusi resmi, menolak stabilitas bentuk, dan mengandalkan proses sebagai modus produksi utama. Pertunjukan seni ini digelar membuka Pekan Nan Tumpah pada Minggu (24/8/2025) di Fabriek Padang.

Untuk itu saya membaca pementasan Indomiiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik sebagai praktik pascadramatik politis-kontekstual. Ia tidak menawarkan kritik melalui cerita, melainkan melalui pengalaman yang mengganggu, tidak nyaman, dan tidak tuntas. Kenyang dan sehat hadir semata sebagai retorika citra; yang diwariskan oleh pertunjukan justru kesadaran akan residu, limbah, polusi, dan kebijakan yang terus melekat dan tak pernah benar-benar terurai.

Dilihat dari perspektif dramaturgi pascadramatik, titik kosong Indomiiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik terletak pada kecenderungannya menumpuk tanda dan material tanpa hierarki dramaturgis yang jelas. Akumulasi tubuh, plastik, slogan, dan citra satiris memang kuat secara afektif, tetapi berisiko melemahkan tekanan dramaturgi karena tidak semua elemen bekerja secara produktif dalam relasi satu sama lain. Panggung terlalu penuh sehingga tampak nirfungsional dan kehilangan relasi. Ketiadaan struktur progresif membuat pengalaman penonton sangat bergantung pada sensitivitas individual; bagi sebagian penonton, kritik dapat terasa repetitif dan berhenti pada efek kejut visual, tanpa cukup ruang refleksi yang berlapis dan berkelanjutan.

Pintu: Negosiasi Tubuh, Ritual, dan Pascadramatik di Era Digital

Sementara itu. pertunjukan Pintu yang pada Senin, 10 November 2025 di Fabriek Padang dipandang dalam perspektif dramaturgi pascadramatik, menurut saya, keberadaan tiga pintu dalam pementasan Pintu yang disutradarai Yusril Katil tidak berfungsi sebagai latar representasional, melainkan sebagai perangkat situasional yang mengorganisasi pengalaman pertunjukan. Latar dinding dengan tiga daun pintu tidak lagi bertugas menjelaskan cerita, tetapi menjadi medan operasi dramaturgis tempat peristiwa lahir, bergerak, dan dinegosiasikan di hadapan penonton. Ruang ini jadi pusat peristiwa.

Meskipun demikian, sebagai ruang asal peristiwa, ketiga pintu tersebut meniadakan logika sebab–akibat dramatik. Peristiwa tidak “datang dari luar panggung” sebagaimana dalam drama konvensional, tetapi muncul, berulang, atau terhenti melalui pintu-pintu itu sendiri. Dengan demikian, fokus pertunjukan bergeser dari alur naratif ke kejadian (eventness), yakni  apa yang berlangsung secara langsung di ruang dan waktu pertunjukan, bukan apa yang diceritakan. Pergeseran ini sejalan dengan gagasan dan konsepsi   pascadramatik yang cenderung melemahkan dominasi narasi linear.

Pintu-pintu tersebut juga bekerja sebagai ruang ucap. Tubuh performer tidak berbicara dari posisi karakter psikologis yang stabil, melainkan dari ambang—antara masuk dan keluar, hadir dan absen, terbuka dan tertutup. Ucapan menjadi tindakan performatif yang terikat pada situasi ruang dan teknologi yang mengitarinya. Bahasa tidak diarahkan untuk membangun dialog dramatik, melainkan menghasilkan resonansi makna melalui fragmen, gema, jeda, dan interupsi serta klip potongan peristiwa dari berbagai media tentang pandemi wabah Covid-19.

Ketika pintu berfungsi sebagai antarmuka teknologi digital, ia melampaui materialitas fisiknya. Pintu tidak sekadar dibuka atau ditutup, tetapi diaktifkan melalui cahaya, proyeksi visual, suara digital, dan logika klik. Dalam kerangka pascadramatik, hal ini menandai pergeseran dari ruang teatrikal konvensional menuju ruang hibrid, tempat tubuh manusia dan sistem teknologi saling bernegosiasi dalam memproduksi kehadiran.

Namun demikian, Pintu tidak sepenuhnya melepaskan fondasi dramaturgi simbolik dan ritualistik. Ritual dalam konteks ini tidak dipahami sebagai praktik adat atau keagamaan sempit, melainkan sebagai modus dramaturgis sekuler, yaitu tindakan performatif berulang yang membangun kehadiran, nilai, dan relasi etis. Ritual tersebut lahir dari pengalaman kolektif pascapandemi, mediasi digital, serta krisis kehadiran manusia di era algoritmik. Karena masih menjaga struktur simbolik dan orientasi kosmologis, praktik ritual ini bersinggungan dengan pascadramatik tanpa melebur sepenuhnya ke dalamnya.

Konsep “pintu” menjadi perangkat dramaturgis utama yang mengikat seluruh lapisan tersebut. Ia berfungsi sebagai metafora ambang (threshold) antara luring dan daring, lokal dan global, kehadiran dan keterasingan. Oleh karena itu, membaca Pintu sebagai praktik pascadramatik murni berisiko mereduksi kekhasannya. Lebih tepat, karya ini dipahami sebagai dramaturgi ritual kontemporer yang bernegosiasi dengan pascadramatik—sebuah praktik hibrid yang menggeser fokus dari cerita ke pengalaman, tanpa sepenuhnya membongkar struktur dramatik dan intensitas makna.

Tidak Terjebak Kebarat-baratan

Keempat pertunjukan yang saya apresiasi di atas memperlihatkan bahwa praktik teater kontemporer di Sumatera Barat tidak sekadar menjadi “penerima” konsep-konsep Barat seperti pascadramatik, postdrama, atau intermedialitas, melainkan medan pertemuan ide, gagasan, dan konsepsi  yang dialektis, dinamis, aktif, dan sekaligus problematis. Taater Sabai in Kaba menunjukkan bagaimana konsep pascadramatik digunakan bukan untuk membongkar tradisi, tetapi justru untuk membuka ulang kaba sebagai arsip tubuh, ritme, dan ingatan kolektif Minangkabau. Di sini, teori Barat berfungsi sebagai perangkat baca, bukan sebagai standar estetik yang harus ditiru.

Sementara The Mighty Malin Kundang bergerak di wilayah perbatasan yang terasa  gamang.  Pertunjukan ini mencoa menyerap logika pascadramatik dengan mengedepankan fragmentasi narasi, dominasi tubuh, simbol visual namun tetap menambatkan dirinya pada mitos lokal sebagai jangkar etis. Posisi ini menantang kecenderungan akademik yang kerap mengukur “kemajuan” teater daerah sejauh mana ia meninggalkan narasi dan tradisi, seolah pascadramatik identik dengan “pembaratan” total. Dan Payung Sumatera mencoba tidak membenamkan dirinya secara total dalam pikiran Barat.

Pertunjukan Indomiiii Rasa Rendang/Sambil Menyelam Minum Plastik justru memperlihatkan bagaimana praktik pascadramatik dapat tumbuh dari konteks lokal tanpa harus mengutip legitimasi Barat secara eksplisit. Dramaturgi yang lahir dari ekosistem festival, satire agraria, dan tubuh warga menunjukkan bahwa kritik terhadap kapitalisme global dan kebijakan negara tidak harus dimediasi oleh bentuk-bentuk Eropa, melainkan dapat berangkat dari ironi keseharian dan bahasa lokal yang “liar”.

Adapun Pintu karya Yusril Katil menandai batas penting dari dominasi konsepsi Barat itu sendiri. Meski menggunakan istilah postdramatik dan dramaturgi digital, karya ini tidak sepenuhnya tunduk pada logika pascadramatik ala Lehmann. Ritual, simbol kosmologis, dan orientasi etis tubuh tetap bekerja kuat, menegaskan bahwa tidak semua praktik non-linear, visual, dan digital harus dikategorikan sebagai pascadramatik.

Secara keseluruhan, keempat pertunjukan ini mengungkap bahwa persoalan utama teater Sumatera Barat hari ini bukanlah “tertinggal” dari teori Barat, melainkan bagaimana membaca praktik lokal tanpa menjadikannya subordinat dari konsepsi global. Pascadramatik, dalam konteks ini, lebih produktif dipahami sebagai alat dialog dan kritik, bukan horizon tunggal. Dari Sumatera Barat, kita justru belajar bahwa teater kontemporer dapat tumbuh sebagai praktik hibrid, kontekstual, dan politis—tanpa harus kehilangan akar lokal atau terjebak dalam imitasi epistemologi Barat.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...