Selasa, 16 Juli 2013

REVITALISASI SONGKET MINANGKABAU: Menenun Harapan di Helai-helai Benang

OLEH Nasrul Azwar 
Bernhart Bart dan Erika Dubler
Pada tahun 1977-1978, selama 6 bulan, Bernhard Bart bersama isterinya, Erika Dubler, berkeliling Indonesia. Berdua menjelajahi daerah Bohorok di Sumatra Utara sampai Amboina di Mateng. Beberapa hari di Sumatra Barat, mereka menyinggahi Kota Bukittinggi dan Ngarai Sianok dan Koto Gadang di Kabupaten Agam. Perjalanan diteruskan melewati Danau Singgarak dan Solok terus ke Padang. Tentu, perjalanan selama setengah tahun itu, terasa sangat menyenangkan.


TERANCAM LENYAP: Seni Tradisi Minang di Pusaran Arus Global


OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia
Seni-seni tradisi yang melekat dalam kehidupan sosial-kultur masyarakat—tentu saja termasuk di Minangkabau (Sumatera Barat)—dapat dimaknai sebagai sistem nilai yang fungsinya mendorong dan membimbing masyarakatnya menjawab tantangan yang mereka hadapi sepanjang masa.
Seni tradisi Tupai Janjang dari Kab Agam (Foto inioke.com)
Sistem nilai dan tradisi tersebut merupakan ciri identitas sebuah kelompok masyarakat budaya. Pada masyarakat Minangkabau dicirikan dengan paham egalitarian dan sistem matrilineal yang hidup di dalam nagari-nagari. Seni-seni tradisi pun tumbuh di dalamnya seiring berkembangnya nagari.
Dalam kultur Minangkabau, seni tradisi itu biasanya disebut pamenan anak nagari yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi budaya yang ditopang dengan apa yang dinamakan peristiwa budaya alek nagari.


MENYOAL FENOMENA “HARI-HARI”: Sastra Tak Butuh Legitimasi Negara


OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia
Tanggal 3 Juli dijadikan Hari Sastra Indonesia (Foto http://www.dbkomik.com/site/news.php?detail=580)
Enam bulan terakhir, dunia sastra Indonesia, diriuhkan dengan hiruk-pikuk yang berada “di luar” teks sastra itu sendiri. Sasrawan Indonesia kini sedang gandrung mencari dan menetapkan “hari-hari” bagi kehidupan sastra Indonesia, yang memang tak ada sama sekali relevansinya dengan kreativitas dan karya.

CATATAN PEMENTASAN TEATER: Tiga Menguak Kebuntuan Teater

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI)

Pementasan "Segera" Teater Payung Hitam Bandung (Foto Ganda)
Sepanjang Juni 2013, saya menikmati tiga peristiwa teater dengan lokasi pertunjukan yang berbeda: Pada 15 Juni, Teater Payung Hitam Bandung mementaskan “Segera” di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, naskah dan sutradara Rachman Sabur;  20 Juni, Kelompok Studi Sastra dan Teater (KSST) Noktah Padang memanggungkan “Tanah Ibu” di Teater Tertutup Taman Budaya Bengkulu, naskah dan sutradara Syuhendri, dan pada 30 Juni, Teater Ranah Padang menggelar “Dua Senja” di Ruang Terbuka Komunitas Intro Payakumbuh, naskah dan sutradara S Metron M.

Sabtu, 13 Juli 2013

Teater dan Raibnya Festival

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Seni Indonesia


Festival Teater Remaja di Padang, 2011 (foto: inioke.com)
Dua tahun terakhir, “darah” perteateran di Sumatera Barat agak berdenyut. Urat nadinya mulai terisi. Kendati masih perlu dibenahi di sana-sani, iven festival teater yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat, pada 2011 dan 2012, tak bisa dipungkiri, memberi kontribusi kegairahan pada seni yang telah tua ini.

Selain dua festival itu—masing-masing iven yang diikuti minimal 9 grup teater dari Sumatera Barat—Taman Budaya juga menghadirkan alek teater remaja, yang  juga sudah dua kali digelar: pada 2011-2012. Alek teater yang mengutamakan usia remaja dan komunitas teater di sekolah serta kampus ini, terus berlanjut pada 2013 ini. Pesertanya cukup signifikan.

Jumat, 12 Juli 2013

Teater Sumatera Barat yang “Murtad”

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen Aliansi Komunitas Teater Indonesia

Foto Iggoy el Fitra
Sejarah seni teater di Sumatera Barat, di sini, tak dikesankan dalam pembicaraan dikotomik: teater tradisi (cerita) randai dan modern. Tradisi dinilai usang, monoton, dan membosankan. Modern dianggap hidup, dinamis, dan menyenangkan.

Pembicaraan di sini lebih mementingkan tentang saling keterkaitan yang integral antara seni tradisi (bercerita) randai Minangkabau dengan teater modern, yang mulai berkembang di Sumatera  Barat pada awal tahun 60-an. Dan keberpalingan kelompok-kelompok teater terhadap spirit dan nilai-nilai tradisi itu.    


MENJAWAB KEBUNTUAN: Konsorsium Komunitas Seni Sebuah Kebutuhan

OLEH Nasrul Azwar
Sekjen  Aliansi Komunitas Seni Indonesi (AKSI)

Pertunjukan Hari Teater se-Dunia di :Padang (foto:inioke.com)
Pada peringatan Hari Teater Sedunia (World Theatre Day) 27 Maret 2013 lalu, Dario Fo, salah seorang seniman Italia, dipilih untuk menuliskan pesan-pesannya  tentang teater ke seluruh jagad raya ini. Saya menangkap, pesan itu menyiratkan diperlukan pernguatan komunitas-komunitas seni untuk menghadapi penguasa.
Dario Fo, yang lahir  pada 24 Maret 1926, merupakan seniman multitalenta: sutradara, penulis naskah drama, satirist, aktor, dan komposer. Pada 1997, Dario Fo memperoleh penghargaan Nobel Sastra yang bergengsi itu.

“Sirayo Setan” Menuju ke Masa Depan Koreografi Sumbar, Menyigi Proses Kreatif Ahob

OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis DI ANTARA geliat dan gelinjang perkembangan tari kontemporer Minangkabau yang terus berusaha mencari bahasa ...