OLEH Kharul Jasmi-Wartawan
“PAPA MANA?”
Demilkian suara sendu
dari balik gagang telepon. Suara itu berasal dari mulut Gina Dwi Fakhria, anak
kedua, Bupati Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, 42 tahun. Saat
itu, pukul 20.00 WIB, Kamis, 12 Agustus 1999.
Gadis itu
lebih banyak menangis ketimbang bicara. Kemudian telepon diambil alih oleh
ajudan bupati, Sarimo, yang membenarkan bahwa Gamawan Fauzi hilang.
Bupati hilang? Betul. Ia hilang di hutan belantara antara Singkarak dan Lubuk Minturun, Padang, bersama 126 orang lainnya saat napak tilas untuk melihat potensi daerah yang akan dikembangkan bagi sektor pertanian dan pariwisata, serta industri semen. Namun, karena diserang lebah rimba, akhirnya mereka tersesat selama 5 hari.
Hilangnya Gamawan Fauzi, yang baru meluncurkan dua album Minang itu, telah menggemparkan Sumatera Barat. Apalagi orang tahu, belantara antara Paninggahan Singkarak dan Lubuk Minturun, Padang, merupakanhutan perawan yang belum dijamah orang.
Peristiwa itu, kemudian dengan mudah
dipertautkan orang dengan sejumlah cerita rakyat, terutama tentang harimau asli
Minangkabau dan harimau rantau. Betul atau tidak, rombongan yang tersesat itu,
memang ada yang dituntun harimau menuju jalur dan jalan yang benar.
Rombongan
napak tilas berjumlah 146 orang itu, berangkat dari Paninggahan, Solok, pukul
09.00 WIB, Rabu, 11 Agustus 1999. Setelah dua jam perjalanan, sebanyak 20
orang, yaitu penduduk setempat kembali pulang. Sementara yang 126 orang lainnya
melanjutkan perjalanan membelah hutan lebat. Seharusnya pukul 16.00, rombongan
sampai di sebuah kawasan hutan bernama Bukit Lantiak.
Gamawan
memerintahkan rombongannya untuk berkemah di kaki bukit itu. Meski masih sore,
tapi suhu sudah dingin, matahari tak kelihatan lagi. Belum ada tanda-tanda
rombongan akan tersesat, sebab mereka masih berada pada jalur yang benar,
sesuai rintisan lima orang tim survei yang diberangkatkan 7 hari sebelumnya.
Dikeroyok
Lebah
Kamis, 12
Agustus 1999, pagi telah datang, tapi di kaki Bukit Lantiak tak ada matahari.
Dingin masih memagut, sekitar pukul 06.30 WIB rombongan kembali bergerak.
Sesampai di puncak Bukit Lantiak, sebanyak 17 orang rombongan di bawah pimpinan
Camat Mirza Nanda, berjalan duluan, sementara rombongan besar ada di belakang
berjarak 300 meter.
Entah apa
sebabnya, rombongan Camat Mirza Nanda ini, salah langkah, sebab salah seorang
dari mereka terinjak lebah tanah yang langsung mengamuk. Maka, rombongan yang
17 orang itu porak-poranda dibuatnya. Sebanyak 5 orang, disengat oleh puluhan
lebah. Yang 5 orang itu, lari ke belakang dan beberapa saat kemudian bertemu
dengan Gamawan Fauzi, dan ratusan teman-temannya.
Yang 12
orang lainnya? Mereka lari kocar-kacir ke berbagai arah. Paling tidak, seperi
diakui Camat Mirza Nanda, mereka lari sekitar 700 meter ke depan dari sarang lebah
yang tadinya terinjak. Dengan demikian, jaraknya dengan Gamawan Fauzi lebih
kurang 1 km. Jika tak ada aral melintang, rombongan mestinya telah sampai
tujuan akhir di Lubuk Minturun, Padang, sekitar pukul 18.00 hari Kamis itu.
Tapi
malang tak dapat ditolak, mujur tak bisa diraih, Gamawan beserta puluhan
jagawana, polisi, tentara, aparat PU, tim kesehatan, dan juga kaum wanita, tak bertemu
lagi dengan 12 orang yang dipimpin Camat Mirza Nanda. Itulah yang namanya hutan
lebat, meski baru pukul 16.00 WIB, tapi sudah gelap. Benar-benar tak ada cahaya
matahari.
“Saya
hanya melihat matahari dua jam sehari,” aku Gamawan setelah ia berhasil
diselamatkan. Karena yang ditunggu tak kunjung datang, dikontak lewat radio
milik Syafri Datuk Rajo Nan Peta, karyawan Dinas PU yang juga ikut,
tapi upaya itu sia-sia belaka. Gamawan kemudian
mengambil keputusan. “Buka kompas,”
katanya.
Peta yang dibawa aparat Kantor Agraria pun dibuka. Mereka lalu merintis jalan
baru, menuju barat, sesuai petunjuk peta. Tanpa disadari, walau menuju barat,
mereka serong ke kanan akibatnya kehilangan arah.
Begitu
kehilangan arah, Gamawan Fauzi meminjam handpone salah seorang stafnya. Dengan
alat itulah pada pukul 13.45 WIB, Kamis, 12 Agustus 1999, ia menelepon Sekda
Kabupaten Solok, Syafri Katib. Telepon berdering di ruang kerja Sekwilda. Hanya
beberapa detik saja, ia terkejut. Yang menelepon ternyata atasannya, Bupati
Gamawan
Fauzi. “Pak Sek, saya tersesat, saya tidak tahu entah berada di mana sekarang,”
kata Gamawan. Hubungan telepon pun putus. Sejak
itu, cerita hilangnya Gamawan Fauzi tersebar luas. Salah seorang famili
Gamawan yang ada di Padang mengontak Kapolresta
Padang, Letkol Suhardi Sigit. Tak lama kemudian, Suhardi mengirim Brimob
ke Lubuk Minturun. Polisi membuat posko di sana. Sejak itu, yaitu Kamis sore Gamawan
dinyatakan hilang. Dari mana Gamawan menelepon? Katanya dari Bukit Lantiak,
tapi siapa yang bisa membenarkan hal itu, sementara ia sendiri mengaku
tersesat. Yang pasti, saat itu, rombongan bupati termuda di Indonesia ini,
berada pada ketinggian 1.850 meter dari permukaan laut,” katanya kepada
Republika, sesaat setelah ia diselamatkan, Ahad, 15 Agustus 1999.
Jika
sinyal handphone bisa ditangkap, kata Danlanud Tabing, Letkol (P) Chairuddin
Ray, maka jarak Gamawan dengan kota Solok sekitar 10 mil. Tak terlalu
jauh memang, sebab garis tengah hutan belantara yang “menelan”
rombongan napak tilas itu, hanya 62 km saja.
Kehabisan
Logistik
Karena
Mirza Nanda dan teman-temannya seperti Hari Junaidi, Wizarman (Kadinas
Pariwisata), Ujang, Abrar, Jasrul dan lainnya itu tak kunjung bersua, maka
diputuskanlah mencari jalan sendiri. Kompas sudah menunjuk ke arah barat.
Rombongan pun berjalan ke arah sana. Celakanya, tanda-tanda yang dipakai oleh
tim survey tak kunjung bertemu. Padahal, tanda itu dipasang mencolok, tidak
saja disilang dengan cat merah, tapi juga diberi panah dengan bambu yang
dipakukan dengan batang kayu.
“Kita
sudah tersesat, Pak Bupati,” kata Hasan Noer Datuk Kayo, 72 tahun, lelaki
paling tua yang ikut dalam rombongan itu. Datuk Kayo adalah tokoh adat Paning-
gahan, desa terakhir di kaki hutan belantara yang Rabu lalu ditinggalkan
rombongan.
Tersesat?
Suasana mulai mencekam. Ternyata tidak seorang pun dari rombongan besar itu
siap untuk tersesat. Tidak pula bupati. Dan, hutan tidak membedakan, apakah ia
bupati atau bukan, kalau akan tersesat, pasti tersesat juga. Ketika disadari
telah tersesat itulah, Gamawan
mendapat
hubungan dengan Kapolresta Padang, Suhardi Sigit, lewat telepon genggam. Sayang
kontak itu, tidak bisa menjelaskan di mana Gamawan berada. “Saya ada di dalam
hutan, entah di mana,” kata Gamawan.
Baterai
telepon genggam pun habis. Komunikasi terputus. Kontak radio hanya beberapa
kali bisa dilakukan, kemudian putus total. Gamawan benar-benar tak terpantau
lagi. Tim SAR di bawah pimpinan Yal Effendi dan polisi dengan Kapolresta
menduga Gamawan ada di sebuah bukit bernama Bukit Sambuang, yang terletak
persis di pertengahan Paninggahan-Lubuk Minturun. Jika disusul oleh tim SAR ke
sana, maka untuk pergi saja dibutuhkan waktu delapan jam, atau 16 jam pulang
pergi. Lumayan jauh. Tapi tim SAR, Brimob dan Mapala melakukannya juga.
Gamawan
bukan berada di sana, yang mungkin ada di situ, adalah rombongan Camat Mirza
Nanda. Polisi berusaha memantau posisi bupati ini dengan melepaskan tembakan.
Tapi, Gamawan tidak pernah bisa mendengar adanya tembakan itu.
Kamis
telah menuju sore nan gelap. Jalan baru telah dirintis. Ternyata rombongan
bupati memasuki kawasan hutan yang sama sekali belum pernah ditempuh manusia.
Banyak sekali ular, lintah, serta binatang hutan aneh lainnya. Semua memburu,
menggigit rombongan, namun sakitnya tetap ditahan.
Sebatang
sungai kecil kelihatan mengalir di jurang dua bukit. Airnya putih menyejukkan
mata. Rombongan telah sepakat untuk menelusuri sungai itu, namun ternyata sulit
sekali. Sungai tadi dipagar tebing yang kecuramannya
750-800.
Maka, rombongan terpaksa berjalan di pinggang bukit yang berlapi-lapis. Anggota
rombongan melukiskan, untuk menempuh jarak 0,5 km saja, diperlukan waktu lebih
dari satu jam.
“Kami
harus merangkak, berpegangan satu sama lain, dan tangan yang lain harus tetap
memegang pohon, jika tidak kami akan terjatuh masuk jurang,” kata Hendra, salah
seorang dari mereka.
Di
situlah, Hasan Noer Datuk Kayo, nyaris terjatuh, untung ia bisa memegang akar
kayu. Jika tidak, dipastikan orangtua itu akan jatuh seketika. Malam telah
datang. Rombongan pun beristirahat di bawah sebatang pohon besar. Semua
rombongan melingkar di pohon itu. Malam itu, makanan tinggal
beberapa bungkus mie, yang kemudian dibuat bubur lalu dibagi rata:
setengah gelas per orang.
“Ada yang
menampung mie itu dengan topi, dengan telapak tangan, bahkan ada yang langsung
dengan lidah,” kisah Gamawan.
Mereka
juga sempat minum kopi sloki setiap orangnya. Ludes sudah makanan, tapi hari
masih malam. Jadinya, saat-saat berikutnya, kelaparan melanda. Dapat
dibayangkan, bupati, serta sejumlah pejabat kabupaten yang selama ini tak
pernah merasakan lapar, kini malah kehabisan makanan.
Tidak ada
yang tertidur, yang ada hanyalah kelelahan. Dan Jumat pagi, ketika tak ada
murai berkicau, yang ada hanya bunyi-bunyi aneh binatang hutan, Datuk Rajo Nan
Peta, kembali memainkan radio komunikasinya. Kontak bisa dilakukan dengan
petugas di Posko, Asam Pulau, dekat “bunker” PLTA Singkarak, lewat frekwensi
Aripan
14.3870
Mhz. Saat itu, dikabarkan rombongan telah kehabisan makanan. Ketika ditanya di
mana mereka berada, tidak seorangpun yang bisa menjelaskannya. Untuk
mengevakuasi, jelas tidak mungkin, posisi mereka belum diketahui.
Setelah
makanan habis, persediaan air mineral pun gawat. Sementara baju sudah basah dan
telapak kaki yang dibungkus sepatu pun sudah basah kuyup. Yang disebut
terakhir, ternyata berpengaruh besar pada motivasi.
“Jika
kaki sudah basah, kita akan frustasi,” kata salah seorang dari rombongan itu. Setelah
berjalan beberapa jauh, masih di tepi sungai, rombongan memutuskan untuk tidak
bergerak, sesuai petunjuk dari Posko Asam Pulau. kemudian diutuslah dua orang,
yaitu Bakri dan Asril, (jagawana) untuk mencari desa terdekat. Berselang
kemudian, sebanyak 37 orang lainnya pun berangkat dipimpin Kapolsek Letda Dedi
Supriadi. Dari arah berlawanan, sejumlah penduduk desa masuk hutan untuk
melakukan pencarian. Namun untuk mengevakuasi tidak mungkin, selain sudah sore,
jaraknya lebih 15 mil dari desa terdekat. Sementara itu, rombongan Kapolsek
Letda Dedi Supriadi pecah menjadi dua, karena tidak sepaham.
Gamawan
Fauzi sendiri, dihinggapi stres. Ia ketakutan, jika saja salah seorang dari
anggota rombongan hilang atau cedera bahkan mungkin mati, maka sasaran cacian
pastilah dirinya. Maka, dipanggilnyalah semua anggota yang tersisa. Diminta
untuk berdoa yang kemudian dipimpin Hasan Noer Datuk Kayo.
Doa orang
itu, lurus dan tulus, sehingga banyak yang meneteskan air mata. Usai salat di
atas batu, Gamawan meminta rombongannya untuk menghilangkan sifat sombong, dan
berdoa kepada Tuhan.
“Jangan
curi apa pun di hutan ini, rotan yang sempat dimasukkan ke dalam tas, tolong
ditinggalkan, itu bukan milik kita,” pintanya. Semua patuh. Dalam kepatuhan
yang jujur itu, perut keroncongan. Maklum tak pernah bertemu nasi.
Jumat
telah memasuki malam. Pada malam itu, tak ada apa-apa lagi, yang tersisa hanya
semangat untuk hidup. Maka tak heran, begitu Sabtu masuk,
banyak dari rombongan yang terkena halusinasi. Sebentar-sebentar ada yang
melihat rumah penduduk, melihat kebun jagung, melihat sawah, dan entah apa
lagi. Hal ini makin membuat Gamawan stres.
“Kita
masih dalam rimba belantara, tapi teman-teman telah melihat rumah penduduk.”
Sepanjang
Sabtu suasana tak jelas. Tapi, tiba-tiba menjelang sore, Camat Mirza Nanda
ditemukan oleh anggota Brimob Asril Yanto dan Riki. Ke-12 orang itu, ternyata
kembali ke jalur yang benar. Mereka sampai ke Posko Air Dingin, Lubuk Minturun
pukul 16.30 WIB, Sabtu.
Menurut
Sekda Kabupaten Solok, Syafril Khatib, sudah 129 orang ditemukan. Sebanyak 12
orang kembali melalui Lubuk Minturun, Sabtu, 14 Agustus 1999 siang.
Sorenya 2 orang kembali melalui Desa Salibutan. Sebanyak 15 orang pada Sabtu
malam dan 21 orang pada Ahad melalui Pasa Usang, Lubuak Aluang. Terakhir
sebanyak 79 orang kembali melalui Desa Salibutan, termasuk Bupati Gamawan
Fauzi.
“Ditolong”
Inyiak Harimau
Kisah
yang dialami rombongan Camat Mirza Nanda memang dapat menegakkan bulu kuduk.
Pada Jumat siang di tempat terpisah, rombongan Mirza Nanda dikejutkan oleh
seekor harimau yang melintas di depan mereka.
“Harimau
itu melintas,” kata Camat Mariza Nanda, setelah ke-12 orang itu berdoa kepada
Tuhan dan disusul permintaan bantuan pada raja hutan.
“Inyiak
tolonglah kami, dima kami kini kok nyiak, tunjuakanlah
kami jalan (Inyiak—sapaan untuk harimau kalau sedang di hutan—tolonglah kami,
di manakah kami kini berada, tunjukkanlah kami jalan),” kata mereka. Tapi, mereka
tidak tahu, apakah maksud harimau menampakkan dirinya.
Salah
seorang menafsirkan maksud harimau itu melarang rombongan untuk terus
melangkah ke arah tersebut. Mereka pun berbalik. Ternyata, kemudian mereka
sampai ke titik tujuan yang direncanakan, Lubuk Minturun, Padang. Mereka sampai
di sana, Sabtu. “Jadi kami ditunjukkan jalan oleh raja hutan itu,” kata Mirza
Nanda.
Berbeda
dengan Mirza Nanda, Bupati Solok Gamawan dituntun oleh radio komunikasi milik
Syafri Datuk Rajo Nan Peta, karyawan PU ini memiliki radio Orari yang bagus,
sehingga bisa melakukan komunikasi dengan gubernur di darat.
“Kita
bersyukur kepada Tuhan. Berkat dialah rombongan bupati bisa selamat,” kata
Gubernur Sumatera Barat Mayjen Dunidja.
Bupati
Gamawan Fauzi kembali pada keluarganya. Begitu juga semua anggota rombongan.
“Papa…,”
kata Gina Dwi Fakhri, anak kedua Gamawan berteriak, begitu melihat ayahnya
kembali dari hutan.
Gadis
kecil ini tak kuasa lagi menahan kerinduannya. Ia berlari menempuh persawahan.
Di pematang sawah ia peluk ayahnya, Gamawan Fauzi. Gadis itu menangis dan tak
mau lagi melepaskan ayahnya. Berselang beberapa menit kemudian, istrinya, Vita
Nova yang datang. Mereka berpelukan, dan air mata wanita beranak tiga itu tak
terbendung lagi.
Saat
ditemukan, Sabtu malam, Gamawan Fauzi berada pada satu titik, bernama Hulu
Sungai Saliputan, setelah helikopter dari Pangkalan Udara Tabing menyisir hutan
lebat tempat bupati ini diperkirakan berada. Dan Lanud Tabing Chairuddin Rai,
yang mengomandoi pencarian lewat udara, akhirnya menemukan posisi Gamawan, dan
langsung mendrop makanan.
Dari
heli, Ahad, pukul 09.15, kemudian didrop lagi 350 kg makanan, terutama kurma,
kemudian nasi, dan dan mie instant. Sementara di Posko
Utama, Gubernur Sumatera Barat Mayjen Dunidja terus memantau bersama
Danlanal Taluak Bayua dan Kapolresta Padang, Suhardi Sigit.
Tim SAR
yang berintikan anggota Brimob ditambah masyarakat setempat akhirnya menemukan
rombongan Gamawan.
Diakah
Sang Kandidat?
Gamawan
Fauzi, Bupati yang dilahirkan 9 November 1957 ini memang menjadi tenar setelah
kasusnya tersesat pekan lalu. Tapi sebelum itu, ia sudah banyak dikenal di Sumatera
Barat.
Mantan
Kabiro Humas Tk I Sumatera Barat ini, disebut-sebut pula tokoh yang kuat
mungkin terpilih menjadi Gubernur Sumatera Barat periode mendatang. Tapi, entah
iya, entah tidak, yang jelas ayah tiga anak ini, mengaku bisa memetik banyak
pengalaman dari perjalanan tak terduganya itu.
Alumnus
Fakultas Hukum Universitas Andalas 1982 itu, sebelumnya dikenal sebagai pembuat
pidato gubernur, sejak Azwar Anas hingga Hasan Basri Durin. Ia terlahir sebagai
anak ke delapan dari 16 orang bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga yang
berdisiplin tinggi di Alahan Panjang, sebuah kawasan
paling dingin di Sumatera Barat.
Nama
Gamawan, merupakan hadiah dari teman ayahnya yang tugas belajar di
Universitas Gajah Mada. Ayahnya H Dahlan Datuk Bandaro
Basa, memang mendidiknya menjadi orang yang disiplin.
Gamawan,
apa boleh buat, tersesat saat napak tilas. Sejumlah wartawan pun berseloroh,
“Napak tilas orang, napak tilas pula awak, akhirnya awak yang dinapaktilaskan
orang.” Siapa mau napak tilas lagi? ***
Harian Republika,
Padang, 27 Agustus 1999
Sumber: Buku Khairul Jasmi Minangkabau dalam Reportase (Kumpulan Feature), Penerbit Kabarita Padang (2014)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar