OLEH Nasrul Azwar (Jurnalis yang Menyenangi Seni)
SELAIN Pekan Nan Tumpah, ada juga festival seni lainnya yang dilakukan secara berkala di Sumatera Barat seperti KABA Festival yang digelar Nan Jombang. Tapi saya sedang tidak membanding-bandingkannya. Festival atau Pekan Nan Tumpah embrionya berawal dari gelaran tribute terhadap sastrawan Hamid Jabbar yang diinisiasi komunitas ini dengan nama Pesta Puisi pada 2011, lalu berlanjut ke festival dua tahunan yang dilaksanakan secara berkesinambungan.
“Saat pertama digulirkan, nama iven budaya ini Pesta Puisi diisi dengan dua pertunjukan teater, peluncuran album musikalisasi puisi, diskusi dan lomba baca puisi kreatif. Kegiatan perdana ini dilakukan juga untuk mengenang sastrawan Indonesia asal Sumatra Barat, almarhum Hammid Jabbar,” kata Mahatma Muhammad, Pimpinan Komunitas Seni Nan Tumpah.
Iven Pekan Nan Tumpah memang telah menjadi bagian penting dari lanskap seni di Sumatera Barat. Dengan format biennale yang konsisten sejak 2011, festival ini tidak hanya menjadi ruang temu dengan beragam gagasan-gagasan bagi pelaku seni tetapi juga memperkaya dinamika seni, kerja-kerja kolaborasi lintas disiplin, tata kelola festival, dan tentu saja perjalanan satu dekade lebih itu, juga telah memberi warna bagi dunia seni di Sumatera Barat, juga Indonesia.Sejak
tahun 2011 hingga tahun ini, saya nyaris mengikuti secara saksama perjalanan
Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) dalam mengelola festival ini. Selama 14 tahun
tersebut, satu hal yang menonjol dan menjadi landasan utama kerja berkesenian
komunitas ini adalah militansi yang tinggi. Militansi ini bukan sekadar
semangat untuk terus berkarya, tetapi juga komitmen dalam menjaga marwah dan
napas festival secara konsisten di tengah berbagai tantangan.
Namun,
dalam perjalanan panjang KSNT mengelola festival, ada satu aspek yang dalam
pembacaan saya belum maksimal dikelola secara bersamaan dengan penyelenggaraan
festival, yaitu penonton (publik). Dalam konteks seni pertunjukan dan festival,
penonton sering kali dianggap berada di luar teks-teks kerja artistik lintas
disiplin seni. Padahal, bagi saya, penonton adalah elemen krusial yang memiliki
determinasi penting dalam kerja-kerja kesenian. Mereka bukan hanya sekadar
penerima, tetapi juga bagian dari ekosistem seni yang harus diperlakukan dengan
strategi yang lebih matang dan serius.
Pekan
Nan Tumpah ke depan, aspek pengelolaan penonton menjadi tantangan sekaligus
peluang besar untuk membawa fetival ini ke tingkat luas dan berkelanjutan
dengan tetap mengutamakan kualitas. Militansi yang selama ini menjadi ruh
komunitas ini dapat diperluas bukan hanya dalam menjaga kesinambungan festival,
tetapi juga dalam membangun dialog yang lebih erat dengan publiknya, sehingga
festival tidak hanya menjadi perayaan seni dua tahunan, tetapi juga ruang
pertemuan yang semakin hidup antara karya, seniman, dan penonton.
Dalam
beberapa gelaran Pekan (Festival) Nan Tumpah, aspek penonton memang menunjukkan
angka yang menggembirakan, bahkan pernah mendatangkan tujuh ribuan penonton selama
sepekan penyelenggaraan. Akan tetapi, dalam pengamatan saya, aspek ini masih
terkesan kurang tertata dengan baik dan belum mendapatkan bobot perhatian yang
serius dalam diskursus lintas disiplin seni dan peristiwa budaya yang dibangun.
Jika
diambil rerata jumlah penonton yang datang selama enam kali pelaksanaan Pekan
Nan Tumpah, taruhlah sekitar 2.000-an penonton, maka ada 12.000 penyaksi yang
sudah terjaring dan terkoneksi dengan Pekan Nan Tumpah. Informasi yang
diperoleh, jumlah penonton terbanyak mencapai 7.000-an pada Pekan Nan Tumpah
2021. Angka rerata ini cukup signifikan untuk sebuah iven seni. Membaca angka
ini, terlihat apresiasi publik terhadap peristiwa seni—terutana di Kota Padang—berada
dalam iklim yang terang. Kita tidak melihat kehidupan seni pertunjukan itu
gelap. Lalu pertanyaan sederhananya: di mana belasan ribu penonton itu
sekarang? Bagaimana koneksinya dengan KSNT?
Kita
tahu, Pekan Nan Tumpah salah satu festival yang dikelola secara swakelola dan
swadaya serta menggalang penonton dengan ticketing. Artinya, penonton
datang dan membeli tiket untuk menyaksikan pertunjukan. Namun, strategi ticketing
yang dilakukan manajemen Pekan Nan Tumpah tidak dilakukan optimal. Masih
mengesankan sporadis, dan keterhubungn dengan penonton yang telah terjalin
secara tak langsung dengan membeli tiket, tidak dijalin lagi secara emosional
dan koletivisme. Penonton terkesan “dilepas” kembali setelah perhelatan Pekan
Nan Tumpah usai. Lalu, akan dipertemukan
kembali dua tahun yang akan datang. Ada kevakuman “silaturahmi” selama 2 tahun,
yang semestinya, kekosongan “komunikasi” diisi dengan saling bertegur sapa dan
berucap.
Festival
bukan hanya sekadar ruang bagi seniman untuk menampilkan karya, tetapi juga
sebuah ekosistem yang menghubungkan seniman dan penonton dalam pengalaman yang
lebih mendalam. Oleh karena itu, tata kelola dan manajemen penonton harus terus
dioptimalkan agar mereka tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga
terlibat secara aktif dan berkesinambungan. Seperti saya sebutkan di atas,
penonton merupakan bagian utama dalam kerja-kerja kolaborasi seni lintas
disiplin itu. Penonton merupakan determinasi dari sebuah proses seni.
Basis
Data dan Penonton Baru
Pendataan
penonton menjadi sangan krusial. Pemahaman bahwa penonton adalah aset perlu
dipertegas lagi dalam kerangka kerja Pekan Nan Tumpah ke depan. Mesti ada
platform yang menjadi bagian kerja utama dari komunitas ini. Perkara penonton
ini harus dibuatkan satu departemen dalam struktur Komunitas Seni Nan Tumpah.
Untuk
itu, perlu ada strategi lebih mendalam dalam mengelola hubungan antara festival
dan publiknya. Pekan Nan Tumpah yang selalu berpijak pada narasi dan kerja
kreatif dalamm spektrum lintas disiplin, idealnya dapat mengembangkan ekosistem
penonton yang tidak hanya berjumlah besar, tetapi juga memiliki keterlibatan
yang lebih aktif, baik secara intelektual maupun emosional. Ini bisa dilakukan
dengan berbagai pendekatan, mulai dari program edukasi seni, diskusi
pascapertunjukan, hingga strategi kurasi yang lebih inklusif untuk menjangkau
spektrum penonton yang lebih luas, dan tata Kelola basis data penonton.
Dari
rangkaian strategi itu, semuanya dimuarakan pada basis data penonton yang
sistemik, tertata, dan mudah diakses. Mengerjakan itu memang dituntut ketekunan
dan kesabaran karena terkait dengan pola dan cara komunikasi eksternal dengan
yang pihak berada di luar (penonton). Maka, pertanyaan signifikan dalam tajuk
dalam DKT ini: “Pekan Nan Tumpah 2035: Masih Ada atau Sudah Jadi Mitos?”
terjawab dengan “Pekan Nan Tumpah masih ada dengan puluhan ribu penonton selama
sepekan.” Jawaban ini memang optimistis. Dan tidak salah. Yang salah itu jika
kita menjadikannya mitos.
Jika
kita menyepakati bahwa penonton adalah bagian penting dalam produksi festival
dan keberlanjutan Pekan Nan Tumpah, maka strategi pengelolaan dan pengembangan
penonton harus dirancang secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan, serta
tentu saja penuh kesabaran.
Kita
memiliki potensi dan peluang besar untuk membangun basis penonton—untuk
sementara di Kota Padang saja—secara berkelanjutan, dan ini saya kira bisa
dilakukan Komunitas Seni Nan Tumpah. Pekan Nan Tumpah adalah jenema (brand)
dari sedikit festival pertunjukan seni yang digelar berkala di Sumatera Barat,
dan telah sukses dilaksanakan selama 12 tahun. Jenama ini merupakan modal
kultural dan sosial. Maka potensi dan kekuatan modal kultural dan sosial ini,
jangan sampai terbenam dan redup nyalanya. Dan ia harus menyala.
Pemetaan
Segmen Penonton
Komitmen
utama Komumitas Seni Nan Tumpah prinsip dasarnya harus menjaga keberlanjutan
Pekan Nan Tumpah. Ini pijakan dasarnya. Maka, pemetaan segmen penonton menjadi
penting karena berhubungan dengan komunikasi dan jejaring. Pertanyaan paling
umum dan sangat layak dipahami bersama adalah siapa penonton festival Pekan Nan
Tumpah ini? Dan kemungkinan lain membuka segmen penonton lainnya?
Jika
selama ini teridentifikasi bahwa sebagian besar penonton Pekan Nan Tumpah
diklaim berasal dari kaum muda, remaja, dan mahasiswa, yang disebut penonton
baru, maka sudah saatnya pemaknaannya diperluas lagi. Pekan Nan Tumpah mesti
dan niscaya membuka kemungkinan untuk penonton baru dengan latar belakang
segmen yang mapan. Tentu ini tidak dipahami bahwa penonton para muda tidak lagi
diperhatikan, bukan. Mereka tetap jadi segmen utama penonton Pekan Nan Tumpah,
tetapi tidak lagi mendominasi. Sebab, para muda secara psikologis bukan
kelompok dengan karakter penonton loyal. Merek ini mendatangi pertunjukan seni
masih melibatkan lebih dalam pada aspek emosional dan kebertemanan, serta
kaitan nepotisme.
Penonton
segmen mapan itu—yang selama ini pernah juga dilakukan kelompok dan komunitas
seni walau belum maksimal—yaitu para profesional dan komunitas penghobi dan
etnis. Para profesional ini dengan beragam profesi cukup banyak jumlahnya di
Kota Padang. Bagian ini sebenarnya bisa dilakukan Komunitas Seni Nan Tumpah.
Potensi
penonton baru dari kalangan mapan dengan latar profesi yang beragam itu, antara
lain kalangan yang berprofesi dokter dan tenaga medis. Organisasi Ikatan Dokter
Indonesia di Kota Padang, tercatat 2.148 orang anggotanya. Para dokter ini
berpotensi sebagai penonton seni yang loyal karena terkait dengan latar
belakang pendidikan, dan juga belum termasuk tenaga medis serta perawat yang
juga punya potensi menjadi penonton baru. Cuma selama ini, akses dan informasi
terhadap peristiwa budaya dan seni, mereka tidak mendapatkannya secara utuh.
Selain
itu, terdapat berbagai organisasi profesi lainnya, seperti HISKI (Himpunan
Sarjana Kesusastraan Indonesia), organisasi guru (PGRI), komunitas akademisi,
serta anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Sumatera Barat yang
jumlahnya cukup banyak. Ada juga Persatuan Insinyur Indonesia (PII), komunitas
berbasis hobi dengan beragam variannya, serta komunitas etnis. Ada juga
Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia, ASITA, dan lainnya.
Tak
hanya itu, para politisi yang kini duduk di lembaga legislatif (DPRD) sebagai
anggota dewan juga merupakan bagian dari ekosistem ini. Mereka bukan hanya
memiliki potensi sebagai penonton, tetapi juga dapat berkontribusi dalam
pemajuan kebudayaan.
Di
luar kelompok profesi ini, ada pula masyarakat umum yang telah memiliki
ketertarikan terhadap seni, maupun mereka yang belum terbiasa menonton festival
seni, tetapi bisa tertarik jika strategi promosi dilakukan dengan tepat dan
berkelanjutan.
Namun,
semua potensi ini akan tetap menjadi sekadar potensi jika tidak ada langkah
nyata untuk menggerakkannya—memantik, meyakinkan, dan menggugah mereka untuk
terlibat. Di sinilah peran manajemen Pekan Nan Tumpah menjadi krusial. Nan
Tumpah harus mengambil inisiatif untuk mewujudkannya. Dipahami bersama bahwa potensi
tanpa strategi hanya akan menjadi potensi yang sia-sia, tetapi sebalijnya jika
ini tergarap dengan baik maka mereka itu tidak sekadar sebagai penonton tetapi
juga bisa berkontribusi aktif dalam pemajuan kebudayaan.
Kolaboratif
dengan Organisasi Profesi dan Komunitas
Organisasi
profesi seperti HISKI, PGRI, HIPMI, PII, dan oragnisasi profesi lainnya, komunitas hobi, komunitas etnis, dan politisi (anggota
DPRD) memiliki peran strategis untuk jadi penonton aktif dalam Pekan Nan Tumpah
dan menjadi jaringan yang besar dan luas sebagai pendukung (penonton) utama
Pekan Nan Tumpah melalui promosi, pendanaan, atau advokasi kebijakan.
Selain
itu, meraka ini berpeluang menjadi segmen penonton aktif baru yang loyal jika
didekati dengan strategi yang tepat, komunikasi yang berkeseimbangan, dan
berdialog dengan pensuasif dan setara.
Mereka ini berpotensi sebagai mitra dan kolaborator program yang bisa
memberikan perspektif baru dalam penyelenggaraan Pekan Nan Tumpah.
Mewujudkannya
tentu bisa dilakukan dengan langkah konkret dan berkomunikasi secara intensif,
terbuka, dan setara. Tim Pekan Nan Tumpah memprioritaskan komunikasi dan
menjalin silaturahmi dengan membuka perbicangan yang setara dan profesional
secara langsung. Misalnya, mengundang organisasi ini dalam pertemuan strategis
pra-festival untuk mengenalkan lebih jauh Pekan Nan Tumpah dan peluang peran
yang yang bisa dikolaborasikan dan keterlibatan langsung.
Selain itu, Nan Tumpah membukan ruang
kolaborasi yang relevan dengan organisasi profesi tersebut. HISKI, misalnya, bisa
berkontribusi dalam diskusi sastra atau literasi budaya, PGRI bisa
mengintegrasikan Pekan Nan Tumpah dengan kegiatan edukasi seni bagi siswa, dan
guru-guru sebagai penonton yang partisipatoris aktif. HIPMI bisa mendukung
pengembangan ekonomi kreatif dalam festival, PII bisa membantu dalam aspek
teknis seperti arsitektur ruang festival atau inovasi teknologi dalam
pertunjukan. Sedangkan komunitas hobi dan etnis bisa diberi panggung khusus
untuk menampilkan ekspresi seni mereka. Politisi dan DPRD diajak berdiskusi
dalam forum kebijakan budaya untuk advokasi lebih lanjut.
Untuk
membangun penonton dan menumbuhkan loyalitas yang tinggi, Nan Tumpah bisa
lakukan berbagai langkah antara lain pendataan sistematis keanggotaan dengan
melibatkan partisipasi aktif dan mendapatkan akses eksklusif ke acara-acara Nan
Tumpah sepanjang tahun. Mengembangkan platform
digital dan komunitas daring, yaitu grup
media sosial atau website interaktif tempat penonton bisa berdiskusi dan
berbagi pengalaman tentang festival dan seni budaya secara umum. Selain itu,
membangun dan mengkomunikasikan pengalaman mereka yang mengesankan agar mereka
merasa menjadi bagian dari festival dan Nan Tumpah.
Selama
ini barangkali sebagian sudah dilakukan Nan Tumpah kendati masih bersifat
parsial dan belum terintegrasi dengan semua rangkaian festival dan platform
jangka Panjang Komunitas Seni Nan Tumpah. Menggalang dan merawat penonton
merupakan salah satu upaya membangun ekosistem festival yang berkelanjutan.
Untuk itu, Pekan Nan Tumpah harus dikelola sebagai ekosistem seni yang hidup dengan strategi yang menyeluruh sehingga
terbentuk basis penonton yang loyal dan terus berkembang. Dengan strategi yang terencana dan terukur,
Pekan Nan Tumpah bisa terus berkembang dan menjadi festival yang tidak hanya
menghadirkan seni, tetapi juga membangun keterlibatan penonton yang kuat dan
berkelanjutan. ]
Nan
Tumpah Riset
Komunitas
Seni Nan Tumpah harus menyiapkan badan riset yang kerjanya bukan hanya sekadar
"pendukung" festival, tetapi juga motor utama dalam pengembangan
konsep, strategi, dan keberlanjutan komunitas. Nan Tumpah Riset juga bisa
menyusun secara metodologis dan konsepsional kerja-kerja kreatif lintas
disiplin seni yang pernah dilakukan selama ini.
Selain
itu, membangun kapasitas dan penguatan kerja kolaboratif antarseniman dengan
penekanan pada cara kerja kreatif berbasis riset. Kehadiran Nan Tumpah Riset
ini harus berada dalam tubuh struktur KSNT, eksistensinya bukan subordinat. Nan
Tumpah Riset diproyeksikan menghasilkan program-program
yang lebih adaptif, inovatif, dan strategis sehingga memperkuat posisi KSNT dan
Pekan Nan Tumpah dalam ekosistem seni di Sumatera Barat dan Indonesia. ***
Padang,
Maret 2025
Tulisan
ini dipaparkan pada Pekan Nan Tumpah 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar