OLEH Nasrul Azwar-Jurnalis
“Satu gerak bisa merepresentasikan seribu kata.” Ungkapan ini telah menjadi adagium yang nyaris “melegenda” dalam dunia seni pertunjukan, khususnya di ranah tari atau koreografi. Ia berakar pada keyakinan bahwa tubuh adalah bahasa. Jika dalam sastra kata menjadi medium komunikasi, maka dalam tari, gerak tubuh adalah ujaran—lahir dari kesadaran, pengalaman, dan ingatan tubuh itu sendiri.
Namun demikian, tubuh tidak selalu mampu menyampaikan secara presisi gagasan dan pesan yang dimaksudkan dalam suatu pertunjukan. Ia membutuhkan pemahaman antropologis, kultural, dan psikologis, serta perangkat pengalaman yang memadai agar makna yang muncul dapat dibaca dari inner expression para penari.






